Oleh Arofatul Lailia
1. Puisi berjudul Elegi,
karya Toeti Heraty.
Elegi
kau gelisah sayang
tampaknya malam yang
menyingkirkan awan
tetapi pucuk-pucuk
mendung
memercikkan
getar
pohon-pohon tegak
rumput semak dan riuh
kota telah lelap
bersembunyi dalam satu
nada sunyi
menunggu, adalah
pembunuhan lambat
yang
sedang berlalu
dan semangat hilang
melewati lobang-lobang
dalam
kelam
kau gelisah sayang,
membuang muka tidak ingin
melihat
bulan
dilingkari sepi
sepi dan detak jantung
jadi degup
lambat-lambat dan semakin
berat
menunggu taufan selesai
Puisi Elegi menggambarkan suasana gelisah yang kuat, menggabungkan keheningan malam dengan perasaan batin yang sedang dihadapi. Pada bagian awal, puisi ini langsung menyebutkan perasaan gelisah yang dirasakan, yang digambarkan melalui suasana malam yang hening. Malam tampak tenang, namun gelap dan mendung menggantung seperti beban yang siap turun.
Makna Pada Bait Puisi
“Tampaknya
malam yang menyingkirkan awan” kondisi malam yang tetap berawan memberikan
kesan bahwa ada sesuatu yang menyingkirkan atau menghalangi suatu hal.
“Menunggu
adalah pembunuhan lambat” mengekspresikan betapa mencekamnya perasaan
menunggu, seakan waktu berjalan lambat dengan beban yang semakin berat.
“Bulan
dilingkari sepi.” Sepi ini mengaitkan kesendirian dengan ketakutan atau
rasa cemas. Adanya rasa takut dan
antisipasi dari sesuatu yang belum terjadi.
“Menunggu
Taufan Selesai” Taufan di sini bisa menjadi kekacauan atau konflik dalam
diri yang menunggu saatnya reda. Dalam hal ini, si "aku" atau
"kau" dalam puisi sedang berada dalam kondisi tak berdaya, di mana
satu-satunya pilihan adalah menunggu taufan tersebut selesai.
Gaya
Bahasa
Personifikasi:
Frasa seperti “malam yang menyingkirkan awan” memberikan kesan bahwa
malam memiliki kekuatan atau niat untuk menghalau awan, menciptakan suasana
yang lebih mencekam.
Paralelisme:
Banyak frasa dalam puisi ini disusun dengan struktur yang serupa, menciptakan
irama yang mengalir pelan dan sepi, seperti ritme dari kecemasan yang tertahan.
Suasana
Puisi
ini menciptakan suasana sunyi yang tegang dan melankolis. Ada juga nada
keputusasaan dalam frasa seperti “menunggu, adalah pembunuhan lambat”
yang menunjukkan bahwa menunggu tanpa kepastian terasa menyiksa dan mencekik
semangat.
Pesan
Moral
Puisi
ini menyiratkan bahwa rasa cemas dan takut sering kali muncul saat seseorang
merasa terjebak dalam situasi yang sulit dan harus menunggu tanpa bisa
bertindak. Ini bisa diartikan sebagai sebuah refleksi atas kehidupan, di mana
menunggu sebuah perubahan atau akhir dari masalah besar bisa menjadi pengalaman
yang menyakitkan dan penuh kecemasan.
2. Puisi berjudul Tanah
Air Mata, karya Sutardji Calzoum Bachri.
Tanah
Air mata
Tanah air mata tanah
tumpah darahku
Mata air mata kami
Air mata tanah air kami
Di sinilah kami berdiri
Menyanyikan air mata kami
Di balik gembur subur
tanahmu
Kami simpan perih kami
Di balik etalase megah
gedung-gedungmu
Kami coba sembunyikan
derita kami
Kami coba simpan nestapa
Kami coba kuburkan duka
lara
Tapi perih tak bisa
sembunyi
Ia merebak ke mana-mana
Bumi memang tak sebatas
pandang
Dan udara luas menunggu
Namun kalian takkan bisa
menyingkir
Kemana pun melangkah
Kalian pijak air mata
kami
Kemana pun terbang
Kalian hinggap di air
mata kami
Kemana pun berlayar
Kalian arungi air mata
kami
Kalian sudah terkepung
Takkan bisa mengelak
Takkan bisa kemana pergi
Menyerahlah pada
kedalaman air mata kami
1. Tema Puisi
Puisi
Tanah Air Mata merupakan puisi yang mengekspresikan perasaan mendalam tentang
penderitaan, penindasan, dan rasa memiliki yang kuat terhadap tanah air. Seolah-olah
tempat ini menjadi wadah penampung duka dan air mata rakyatnya. Penderitaan
rakyat disamakan dengan “air mata,” yang mencerminkan rasa sakit, kesedihan,
dan kehilangan.
2.
Makna Pada Bait Puisi
“Di
balik etalase megah gedung-gedungmu” arti dari pembangunan dan modernisasi
yang kontras dengan penderitaan rakyat yang “disembunyikan” di balik kemewahan
itu.
“Bumi
memang tak sebatas pandang//Dan udara luas menunggu” bisa mengisyaratkan harapan atau kesempatan
yang seolah terbuka bagi siapa saja, meski dibarengi ironi bahwa kemanapun
melangkah, tetap saja seseorang atau kelompok tak bisa menghindar dari
penderitaan dan kenyataan yang telah ada
“Kemana
pun melangkah” dan “kemana pun terbang” menunjukkan bahwa ke mana
pun mereka pergi, para penguasa atau pihak-pihak yang telah menyebabkan
kesedihan tidak akan bisa lari dari dampak atau konsekuensi perbuatan mereka.
3. Gaya Bahasa
Repetisi:
Kata “air mata” diulang beberapa kali dalam puisi ini. Pengulangan ini
memperkuat kesan duka yang menyelimuti, sekaligus menegaskan bahwa di mana pun
rakyat berada, rasa sakit itu tetap terasa.
Alegori:
Penggunaan kata-kata seperti “terkepung,” “takkan bisa mengelak,”
dan “menyerah” mencerminkan bahwa siapapun yang bertanggung jawab atas
penderitaan ini tidak dapat melarikan diri dari konsekuensi tindakan mereka.
4.
Suasana
Suasana
yang diciptakan dalam puisi ini sangat penuh emosi. Ada nada kepasrahan namun
juga kekuatan dalam keterdesakan, seakan-akan rakyat telah cukup menderita dan
kini menantikan adanya perubahan.
5.
Pesan Moral
Puisi
Tanah Air Mata menyampaikan pesan bahwa penderitaan rakyat adalah sesuatu yang
nyata dan tidak bisa disembunyikan di balik kemegahan pembangunan. Di mana pun
seseorang berada, jejak air mata akan selalu mengiringi. Ini mungkin menjadi
peringatan bahwa penderitaan rakyat harus diakui dan diatasi, bukan diabaikan.
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar