Rabu, 30 Oktober 2024

Mengkaji Puisi yang Dibacakan Pada Acara Puncak Narawita Fest 2024

 Oleh Arofatul Lailia


1. Puisi berjudul Elegi, karya Toeti Heraty.

 

Elegi

kau gelisah sayang

tampaknya malam yang menyingkirkan awan

tetapi pucuk-pucuk mendung

memercikkan getar

pohon-pohon tegak

rumput semak dan riuh kota telah lelap

bersembunyi dalam satu nada sunyi

menunggu, adalah pembunuhan lambat

yang sedang berlalu

dan semangat hilang melewati lobang-lobang

dalam kelam

kau gelisah sayang,

membuang muka tidak ingin melihat

bulan dilingkari sepi

sepi dan detak jantung jadi degup

lambat-lambat dan semakin berat

menunggu taufan selesai


             Tema Puisi

Puisi Elegi menggambarkan suasana gelisah yang kuat, menggabungkan keheningan malam dengan perasaan batin yang sedang dihadapi. Pada bagian awal, puisi ini langsung menyebutkan perasaan gelisah yang dirasakan, yang digambarkan melalui suasana malam yang hening. Malam tampak tenang, namun gelap dan mendung menggantung seperti beban yang siap turun.


Makna Pada Bait Puisi

Tampaknya malam yang menyingkirkan awan” kondisi malam yang tetap berawan memberikan kesan bahwa ada sesuatu yang menyingkirkan atau menghalangi suatu hal.

Menunggu adalah pembunuhan lambat” mengekspresikan betapa mencekamnya perasaan menunggu, seakan waktu berjalan lambat dengan beban yang semakin berat.

Bulan dilingkari sepi.” Sepi ini mengaitkan kesendirian dengan ketakutan atau rasa cemas.  Adanya rasa takut dan antisipasi dari sesuatu yang belum terjadi.

Menunggu Taufan Selesai” Taufan di sini bisa menjadi kekacauan atau konflik dalam diri yang menunggu saatnya reda. Dalam hal ini, si "aku" atau "kau" dalam puisi sedang berada dalam kondisi tak berdaya, di mana satu-satunya pilihan adalah menunggu taufan tersebut selesai.

 

Gaya Bahasa

Personifikasi: Frasa seperti “malam yang menyingkirkan awan” memberikan kesan bahwa malam memiliki kekuatan atau niat untuk menghalau awan, menciptakan suasana yang lebih mencekam.

Paralelisme: Banyak frasa dalam puisi ini disusun dengan struktur yang serupa, menciptakan irama yang mengalir pelan dan sepi, seperti ritme dari kecemasan yang tertahan.

 

Suasana

Puisi ini menciptakan suasana sunyi yang tegang dan melankolis. Ada juga nada keputusasaan dalam frasa seperti “menunggu, adalah pembunuhan lambat” yang menunjukkan bahwa menunggu tanpa kepastian terasa menyiksa dan mencekik semangat.

 

Pesan Moral

Puisi ini menyiratkan bahwa rasa cemas dan takut sering kali muncul saat seseorang merasa terjebak dalam situasi yang sulit dan harus menunggu tanpa bisa bertindak. Ini bisa diartikan sebagai sebuah refleksi atas kehidupan, di mana menunggu sebuah perubahan atau akhir dari masalah besar bisa menjadi pengalaman yang menyakitkan dan penuh kecemasan.

 

2. Puisi berjudul Tanah Air Mata, karya Sutardji Calzoum Bachri.

 

Tanah Air mata

 

Tanah air mata tanah tumpah darahku

Mata air mata kami

Air mata tanah air kami

 

Di sinilah kami berdiri

Menyanyikan air mata kami

 

Di balik gembur subur tanahmu

Kami simpan perih kami

Di balik etalase megah gedung-gedungmu

Kami coba sembunyikan derita kami

 

Kami coba simpan nestapa

Kami coba kuburkan duka lara

Tapi perih tak bisa sembunyi

Ia merebak ke mana-mana

 

Bumi memang tak sebatas pandang

Dan udara luas menunggu

Namun kalian takkan bisa menyingkir

Kemana pun melangkah

Kalian pijak air mata kami

Kemana pun terbang

Kalian hinggap di air mata kami

Kemana pun berlayar

Kalian arungi air mata kami

 

Kalian sudah terkepung

Takkan bisa mengelak

Takkan bisa kemana pergi

Menyerahlah pada kedalaman air mata kami

 

1.                           Tema Puisi

Puisi Tanah Air Mata merupakan puisi yang mengekspresikan perasaan mendalam tentang penderitaan, penindasan, dan rasa memiliki yang kuat terhadap tanah air. Seolah-olah tempat ini menjadi wadah penampung duka dan air mata rakyatnya. Penderitaan rakyat disamakan dengan “air mata,” yang mencerminkan rasa sakit, kesedihan, dan kehilangan.

 

2.                         Makna Pada Bait Puisi

Di balik etalase megah gedung-gedungmu” arti dari pembangunan dan modernisasi yang kontras dengan penderitaan rakyat yang “disembunyikan” di balik kemewahan itu.

Bumi memang tak sebatas pandang//Dan udara luas menunggu  bisa mengisyaratkan harapan atau kesempatan yang seolah terbuka bagi siapa saja, meski dibarengi ironi bahwa kemanapun melangkah, tetap saja seseorang atau kelompok tak bisa menghindar dari penderitaan dan kenyataan yang telah ada

Kemana pun melangkah” dan “kemana pun terbang” menunjukkan bahwa ke mana pun mereka pergi, para penguasa atau pihak-pihak yang telah menyebabkan kesedihan tidak akan bisa lari dari dampak atau konsekuensi perbuatan mereka.

 

3.                            Gaya Bahasa

Repetisi: Kata “air mata” diulang beberapa kali dalam puisi ini. Pengulangan ini memperkuat kesan duka yang menyelimuti, sekaligus menegaskan bahwa di mana pun rakyat berada, rasa sakit itu tetap terasa.

Alegori: Penggunaan kata-kata seperti “terkepung,” “takkan bisa mengelak,” dan “menyerah” mencerminkan bahwa siapapun yang bertanggung jawab atas penderitaan ini tidak dapat melarikan diri dari konsekuensi tindakan mereka.

 

4.                         Suasana

Suasana yang diciptakan dalam puisi ini sangat penuh emosi. Ada nada kepasrahan namun juga kekuatan dalam keterdesakan, seakan-akan rakyat telah cukup menderita dan kini menantikan adanya perubahan.

 

5.                         Pesan Moral

Puisi Tanah Air Mata menyampaikan pesan bahwa penderitaan rakyat adalah sesuatu yang nyata dan tidak bisa disembunyikan di balik kemegahan pembangunan. Di mana pun seseorang berada, jejak air mata akan selalu mengiringi. Ini mungkin menjadi peringatan bahwa penderitaan rakyat harus diakui dan diatasi, bukan diabaikan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tugas Kapita Selekta Bahasa Indonesia

Nama: Arofatul Lailia NPM: 23410056 Kelas: 6B Mata Kuliah: Kapita Selekta Bahasa Indonesia Pada mata kuliah Kapita Selekta Bahasa Indonesia,...