Sabtu, 28 Maret 2026

Cerpen

Sebuah Peran

Sebuah panggung terletak di tengah-tengah, lantainya terbuat dari kayu yang mulai keropos, dengan sebuah tirai yang berada di tengah, berwarna biru yang kini berganti kelabu karena dimakan usia. Di balik panggung yang penuh akan ornamen itu, Arman duduk dengan sebuah naskah digenggamannya. Di depannya ada cermin besar yang memantulkan wajah, riasannya menyerupai penjahat, alis tebal, dan mata yang ditajamkan seperti tokoh jahat di sebuah lakon kolosal.

Arman kembali menatap wajahnya di cermin, ini sudah ke sekian kalinya ia harus memerankan karakter jahat, lima tahun Arman bergulat dengan sosok-sosok jahat, tertawa lantang, senyum bengis, serta tatapan tajam tanpa berkedip sudah ia kuasai. Hingga penonton memandangnya tidak jauh berbeda dengan peran-peran yang ia mainkan.

Panggung sandiwara dimulai, ia bangkit lantas mempersiapkan diri. Di peran ini, Arman memerankan Duryudana yang merupakan anak pertama dari Dretarastra dan Gandari. Ia menjadi tokoh antagonis utama dalam cerita Mahabharata. Duryudana memiliki sifat licik dan selalu iri hati akan kelebihan Pandawa.

Arman hanya berlatih selama satu bulan untuk memerankan Duryudana. Keseringan memerankan karakter jahat, membuatnya mudah mendalami peran Duryudana yang licik.

"Hentikan Yudistira! Aku tidak butuh belas kasihanmu di sini, setelah apa yang kau dan adik-adikmu perbuat terhadap semua saudaraku, itu... tidak akan bisa aku maafkan!" Arman menunjuk Yudistira dengan tatapan yang tajam.

"Arjuna... kau pikir kau bisa membunuhku hah?!Aku telah dilindungi oleh Dewa Siwa dan tidak akan bisa dikalahkan oleh busur gandivamu itu." Arman berkata dengan lantang dan angkuh, ciri khas dari Duryudana.

Percakapan antara Duryudana, Arjuna dan Yudistira kembali berlanjut. Arman tetap mempertahankan keangkuhannya hingga dialog berikutnya.

"Hahaha... Bima, di mana dia? Akan kubunuh dia sekarang... hahaha!!" Tawa Arman menggelegar, penonton serentak mengeluarkan ekspresi bencinya terhadap karakter Duryudana.

Arman merentangkan tangannya, dagunya ia angkat ke atas sebagai sosok yang angkuh.

"Kemarilah Bima, kau lah lawan yang sepadan denganku."

Seperti itulah kira-kira dialog yang Arman perankan dalam lakon Mahabharata kali ini. Pertunjukan sudah selesai, ia melepaskan aksesoris di tubuhnya. Kemudian beralih menghapus riasan di wajahnya, seperti biasa Arman puas dengan perannya kali ini.

"Wah keren sekali peranmu, Man," ujar Wira setelah sebelumnya menepuk pundak Arman dari belakang.

Arman melirik ke belakang, lalu kembali menghadap ke depan. "Bukannya aku selalu bagus dalam berperan?" Jawaban Arman ia bumbui dengan kesombongan.

Wira menampilkan senyum culas. "Iya juga, kamu aktor antagonis terhebat di sini."

Mendengar itu Arman berdecih. "Pergilah kamu! Menggangguku saja."

Wira mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan sikap Arman yang selalu seperti ini. Iya, Arman selalu saja berlagak layaknya antagonis, tidak hanya di dunia peran, tetapi di dunia nyata juga.

"Sudahlah, Man. Sudah selesai dramanya, kenapa kamu masih memperlihatkan ekspresi Duryudana sih."

"Ini bukan ekspresi Duryudana, tapi ekspresiku sendiri!" Sergah Arman.

Wira yang merupakan teman Arman sejak kecil pun sontak menggelengkan kepalanya. "Bukan, kamu bukan Arman yang dulu, sebelum ikut drama kamu tidak seperti ini."

Bukan mengapa, Wira tahu betul bagaimana sifat dan karakter Arman dulu. Yang baik hati dan selalu menyapanya. Tetapi setelah bergabung dengan drama dan memerankan banyak karakter penjahat, Arman menjadi berubah, sifatnya selalu menyerupai tokoh yang ia perankan.

"Yang tahu menahu tentangku ya diriku sendiri, Wira, lebih baik kamu diam saja dan pergi dari hadapanku."

Karena tidak mau memperpanjang masalah, Wira akhirnya pergi dari hadapan Arman. Kini Arman sudah kembali tenang dan fokus dengan kegiatannya yang awal tadi.

**

Keesokan harinya, Arman hendak pergi ke sebuah toko kelontong, di sepanjang perjalanan, banyak sekali tatapan mata sinis yang mengiringi langkahnya. Arman tahu itu, telinga Arman juga masih berfungsi dengan baik hingga mendengar banyak mulut yang membicarakan hal buruk tentangnya.

"Iya, itu si Arman, pemuda jahat dan sombong," ucap salah satu ibu berbaju kuning.

"Lihat tatapan matanya, ih seram ya, saya rasa dia sudah kerasukan," sambung ibu berbaju merah.

Terlihat ibu yang sedang menggendong anak sedikit memukul lengan ibu berbaju merah tadi. "Hush, jangan bicara aneh-aneh."

Ibu baju merah tidak terima dipukul oleh ibu yang menggendong anak. "Saya tidak bicara aneh-aneh, tanya ke seluruh warga desa, banyak yang tidak menyukainya karena sifatnya yang jelek. Dia sudah kerasukan karakter jahat yang dia perankan."

Arman yang sudah muak pun akhirnya menghampiri ibu-ibu itu, mereka serentak mundur perlahan karena aura Arman tidak mengenakkan.

"Apa yang kalian bicarakan? Kalian tidak tahu seni? Kalian tidak tahu seni pertunjukan? Saya memang memerankan karakter jahat, tapi bukan berarti saya juga jahat!" Arman mengepalkan kedua tangannya.

"Lihat itu ibu-ibu, matanya dia tajam sekali, benar apa yang saya katakan tadi, kalau dia ini memang sudah kerasukan." Ibu baju merah menunjuk wajah Arman.

Arman hendak kembali bersuara, namun suara anak kecil mengganggu eksistensinya.

"Ada Duryudana, lari teman-teman!" Bocah kecil menginterupsi teman-temannya. Lantas sekumpulan anak-anak itu lari setelah melihat Arman. Arman mengerlingkan matanya, kejadian seperti ini sudah terjadi berkali-kali.

"Mereka sampai lari lho gegara lihat kamu, Arman. Berarti memang benar kalau kamu itu jahat." Ibu baju kuning bersuara.

Emosi Arman memuncak, tatapannya menghunus ibu-ibu di hadapannya.

"Kalian semua tidak tahu seni! Tidak tahu bagaimana orang memerankan karakter dengan sempurna!" Setelah mengucapkan itu Arman pergi dari sana, berbalik arah menuju rumahnya, menghilangkan niat awal yang ingin pergi ke toko kelontong.

Sesampainya di rumah, Arman duduk di teras, lebih tepatnya di kursi kayu yang sudah lapuk. Ia sejenak mengontrol emosinya, berhadapan dengan orang yang tidak tahu menahu tentang seni pertunjukan cukup menguras energinya.

Bu Retno yang merupakan ibu Arman datang dari bilik belakang, kini duduk di sebelah anak laki-lakinya itu. "Kenapa kamu, Nak? Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja?"

Arman mengangguk singkat. "Orang-orang bodoh itu kembali menggunjingku, Ibu."

Bu Retno mengerutkan keningnya. "Orang-orang bodoh siapa?"

Arman berdecak. "Ya orang-orang desa, semua orang mengecapku buruk, jahat, sombong. Hanya karena aku memerankan karakter jahat."

Bu Retno lantas mengangguk paham, ia sedikit menggeser tubuhnya untuk mendekat ke arah Arman. Ia memegang lengan anaknya itu dengan berniat mendamaikan hati Arman.

"Arman, Ibu paham apa yang kamu rasakan. Tapi... Ibu juga merasakan hal yang sama dengan mereka."

Arman menoleh dengan tatapan tajamnya, apa maksud ucapan ibunya? Jadi selama ini ibunya juga menganggapnya sebagai orang yang jahat pula?

"Ibu ingin mengatakan jika aku jahat juga?!" Volume suara Arman naik beberapa oktaf.

Bu Retno menggeleng panik, ia tidak ingin Arman membencinya, "Bukan seperti itu, Nak, tapi Ibu merasa kamu sudah berbeda. Kemarin lusa kamu menghajar orang, minggu lalu kamu memukul orang hingga masuk rumah sakit. Ibu rasa penyebabnya karena keseringan memerankan karakter jahat, secara tidak langsung energi jahat itu juga masuk ke dalam dirimu."

Arman tidak percaya jika ucapan itu muncul dari mulut ibunya sendiri. Orang yang Arman yakini akan membelanya, justru membenarkan perkataan orang-orang yang menggunjingnya.

"Ibu tidak tahu seni, jika Arman memerankan karakter jahat itu artinya Arman harus mendalami peran itu, masuk ke dalam peran itu. Bukan berarti Arman jahat!"

"Kamu yang tidak tahu, Nak. Orang-orang terkhususnya Ibu, merasakan itu. Merasa kalau kamu bukan Arman, melainkan sosok lain di dalam tubuhmu." Perkataan Bu Retno berhasil membuat Arman terdiam sejenak.

Melihat Arman yang termenung membuat Bu Retno beralih memegang pundak Arman, mencoba menjelaskan kembali.

"Tubuh kamu sudah dikuasai oleh peranmu sendiri. Maka dari itu, kamu harus mengusir peran itu agar sifatmu yang asli kembali keluar."

Arman menghempaskan tangan Bu Retno yang bertengger di pundaknya, "Ibu sudah berlebihan, tidak seharusnya Ibu berkata seperti itu!"

Bu Retno terkejut dengan perlakuan Arman terhadapnya, memandang anaknya dengan tatapan tidak percaya. Ia semakin yakin jika Arman sudah benar-benar berubah.

"Yang Ibu katakan itu benar, Nak. Sekarang Ibu tanya, apakah kamu nyaman dengan pandangan orang-orang yang mengecapmu sebagai penjahat? Tidak kan? Coba kamu renungkan sendiri," ucap Bu Retno lalu pergi dari sana, membiarkan Arman merenungi masalahnya.

Perkataan Bu Retno sejenak berkeliaran di kepala Arman. Apa yang dikatakan ibunya juga ada benarnya, Arman tidak nyaman dengan pandangan warga terhadapnya. Ia merasa terkucilkan di desa ini, ia juga merasa jika tubuhnya seperti dikontrol oleh karakter seseorang.

**

Beberapa hari ini, Arman selalu mengurung diri di rumah, merenungi segala hal, peran, diri, dan citra yang ada pada sosoknya. Malam-malam kini tak lagi berhadapan dengan riasan wajah dan naskah, melainkan bergulat dengan isi kepala.

Hingga pada sore hari, Wira datang dengan membawa sebuah kabar.

"Man, kamu tahu ‘kan kalau kita ada proyek lakon Ramayana untuk pentas budaya bulan depan?" Tanya Wira sembari duduk di samping Arman. Meskipun Arman berlaku tak baik dengannya tempo hari lalu, namun Wira tidak lagi mempermasalahkan itu.

Arman mengangguk sekilas. "Aku diperintah untuk jadi Rahwana?" Tebaknya, lagi pula ia yakin jika akan memerankan karakter antagonis lagi.

"Kamu ditawari jadi Rama." Perkataan Wira berhasil membuat Arman mengerutkan dahi, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Rama? Karakter protagonis itu?"

"Iya," jawab Wira sambil tersenyum.

"Dalang kita menginginkan hal baru, katanya, ‘Kalau suatu aktor bisa memerankan peran jahat dengan sempurna, maka ia pasti bisa jadi baik dengan sempurna pula.’"

Arman tertawa kecil, tapi tidak dengan rasa senang. "Aku? Rama? Selucon apa ini Wira? Aku bahkan tidak bisa senyum tanpa kelihatan sinis."

"Tapi kamu mau mencobanya, ‘kan? Ayolah Arman, sekali-kali perankan karakter baik."

Arman menatap kosong ke depan, lalu mengangguk pelan. "Aku... akan mencobanya."

**

Hari-hari berlalu bagai ujian mental bagi Arman. Ia harus bersusah payah memerankan karakter protagonis. Ia belajar mengecilkan volume suara, mencoba berbicara dengan pelan, berhenti menggerakkan badan seperti hendak mengintimidasi. Melunakkan tatapannya, ia memandangi wajahnya di cermin, mencoba tersenyum seperti sosok Rama yang suci, tapi yang terlihat di sana masih bayangan kejam Duryudana.

Ia mengulang dialog berkali-kali, tetapi nada suaranya selalu mengandung tekanan. Di awal, ia gagal menyampaikan karakter lembut sosok Rama. Dalang sering menggeleng dan memberi masukan, serta Wira pun terus membantunya dengan sabar.

"Rama itu bukan lemah, Man. Tapi ia berwibawa dan tenang. Kebaikannya itu bukan pura-pura, tapi karena ia tahu bahwa kekuatan terbesar adalah mengendalikan diri supaya tenang," ucap Wira pada suatu malam.

Kalimat itu berhasil mengetuk kesadaran Arman. Ia mulai menonton pertunjukan-pertunjukan lama di ponsel, mendalami cerita Ramayana dari sisi emosional. Tak hanya itu, ia juga mencoba berjalan di desa dengan senyum, meski kikuk dan canggung. Ia menyapa anak-anak, walau mereka masih takut dan bersembunyi di balik kaki ibunya.

Namun hari demi hari, perlahan wajah Arman yang baru mulai terbentuk. Ia menjadi lebih tenang. Ia berbicara dengan lembut saat berlatih, tak lagi meledak-ledak. Para anggota tim drama mulai merasa seperti melihat sosok baru yang selama ini tersembunyi dari diri Arman.

**

Hari pertunjukan.

Dengan busana berwarna biru langit, selendang kuning yang menjuntai ke bawah, tak lupa busur yang tergantung di punggungnya, Arman berdiri di balik tirai. Kali ini, tidak ada guratan hitam di wajahnya, tidak ada senyum bengis. Ia adalah Rama, penuh wibawa dan kelembutan.

"Dengarkan aku, Shinta. Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak mempercayaimu," ucap Arman sebagai sosok Rama di panggung, suaranya tenang, penuh perasaan.

Penonton terpukau. Mereka tak menyangka aktor yang selama ini dikenal angkuh dan menyeramkan bisa memerankan sosok Rama yang penuh ketulusan. Anak-anak yang dulu lari, kini diam terpaku. Ibu-ibu yang biasa menggunjing kini diam membisu, beberapa bahkan meneteskan air mata.

Saat pertunjukan usai, tepuk tangan menggelegar.

Arman membungkuk memberi hormat, lalu tersenyum dengan tulus. Kali ini, senyumnya lembut dan asli.

Di belakang panggung, Wira menghampirinya sembari menepuk bahu. "Selamat datang kembali, Arman."

Dan untuk pertama kalinya, Arman tidak membalas dengan sinis. Ia hanya tertawa kecil, lalu menjawab, "Seharusnya... aku jadi Rama sejak awal."

Sejak saat itu, warga desa mulai berubah terhadap Arman. Warga tidak lagi menatapnya dengan sinis dan benci. Anak-anak mulai menghampirinya dengan rasa kagum. Citra Arman perlahan berubah menjadi baik. Ia berhasil mengizinkan dirinya untuk berubah. Dan di cermin yang sama tempat ia dulu melihat bayangan penjahat, kini ia melihat seseorang yang baru, seorang aktor, seorang seniman… dan seorang manusia yang kembali menjadi dirinya sendiri.

TAMAT

 

Arofatul Lailia, lahir di Kendal 13 Januari 2005. Anak bungsu yang enggan mengakui jika dirinya bungsu (rumit memang). Penggemar sastra sekaligus seni yang sedang mencari jati dirinya. Hobiku membaca serta menulis semua omong kosong yang berada di kepalaku. Aku juga suka mendengarkan musik dan penggemar nomor satu Stray Kids.

Tugas Kapita Selekta Bahasa Indonesia

Nama: Arofatul Lailia NPM: 23410056 Kelas: 6B Mata Kuliah: Kapita Selekta Bahasa Indonesia Pada mata kuliah Kapita Selekta Bahasa Indonesia,...