Rabu, 30 Oktober 2024

Melebur dan Mengalir Bersama, Ia Meminjam Wajah Puisi

 Oleh Arofatul Lailia

Identitas Buku

Judul            : Ia Meminjam Wajah Puisi

Pengarang    : Aya Canina

Penerbit        : Basabasi

Tebal buku   : 86 halaman

Cetakan        : 1, April 2020

Tahun terbit  : 2020

ISBN            :  978-623-7290-84-1




Kesedihan, pengkhianatan, dan rasa sakit hati ialah beberapa toping kecil yang menemani kehidupan. Membuat setiap cerita hidup menjadi lebih pahit dan manis bercampur aduk. Namun, justru dari sanalah kita belajar tentang kekuatan, ketahanan, dan arti sejati kebahagiaan. Dari kesedihan itu pula, Aya Canina berhasil mengemasnya menjadi serangkaian puisi dalam buku yang berjudul Ia Meminjam Wajah Puisi (Basabasi, cetakan pertama 2020).

Mengutip Goenawan Mohamad dalam pengantar Gandari (Jakarta: Tempo, 2013), penyusunan puisi dalam sebuah antologi secara kronologis kadang-kadang memang penting untuk tujuan telaah dan tidak ada hubungannya dengan “menikmati” puisi. Akan tetapi tinjauan ringkas ini mencoba mencari tautan-tautan antar (baris) puisi tanpa mengikuti tertib kronologis demi kenikmatan menjelajahi satu antologi puisi sebagai satu puzzle yang kadang mengajak kita mundur menengok ulang potongan yang sudah kita letakkan dalam konstruksi sebelum maju kembali untuk menggantinya dengan potongan lain yang terasa lebih pas.

Buku Ia Meminjam Wajah Puisi berisikan kumpulan puisi yang memiliki tema tersendiri. Aya menerangkan banyak kesedihan, pengkhianatan, dan rasa kehilangan mendalam yang disusun dengan sangat elok menggunakan bahasa puitis dan sederhana. Dalam ulasan ini, akan diulas beberapa puisi, yang mengusung tema penderitaan, kehilangan, dan pengkhianatan.

Mengutip Cep Subhan KM dalam resensi buku puisi Di Seberang Kata dan Tanda Baca, "Ia Meminjam Wajah Puisi" (Komunitas Imajiner, 2020). Antologi ini memuat puisi-puisi lirik, terlihat dari dominannya monolog yang memang merupakan salah satu, tetapi bukan satu-satunya, ciri khas puisi lirik, terkadang dalam bentuk puisi-prosa. Kita temukan juga satu tampilan puisi berpola pada akhir puisi “Luka Sama Dipikul, Pilu Sama Dijinjing”, menampilkan empat baris penutup dengan jarak baris menjauh dari atas ke bawah menyimbolkan gerak melemparkan dadu dan repetisi tiap kata penyusun baris keempat sebelum akhir pada masing-masing 3 baris selanjutnya sebagai gambaran ketidakpastian angka—berdasarkan konteks puisi menyimbolkan “ketidakpastian nasib”—yang akan muncul.

Buku ini diawali dengan pengantar dan beberapa identitas lainnya. Lalu, dilanjut dengan sajian puisi-puisi yang Aya tulis. Puisi pertama dalam buku ini berjudul Mayat Pelacur, di mana dalam puisi ini menggambarkan potret menyedihkan seorang perempuan yang merasa mati secara perlahan dalam kehidupannya. Menyajikan gambaran yang menyayat hati tentang kesepian, penderitaan, dan kematian seorang perempuan. Melalui bahasa yang sederhana namun penuh makna.

Pohon yang kian tabah ditinggal anak-anaknya pergi,/ Daun yang sebenarnya membenci angin,/ Karena dipaksa jauh dari ibunya. (hlm.3). Dalam puisi ini, Aya menyuarakan tentang kekuatan hidup yang mampu bertahan di tengah segala keterbatasan dan penderitaan. Setiap objek yang disebutkan dalam puisi ini memiliki makna yang mendalam, menggambarkan berbagai kehidupan manusia. Mengajak kita untuk merenungkan makna kehidupan, kekuatan untuk bertahan, dan pentingnya memiliki harapan di tengah kesulitan. Pesan yang disampaikan sangat bagus dan dapat menginspirasi siapa saja yang membacanya.

Dan beginilah kiranya./ Kau suruh aku menunggu,/ Sementara di balik pintu kau bercumbu,/ Dengan gincu yang tak pernah kutahu milik siapa. (hlm.5). Aya seolah-olah menjelaskan tentang rasa sakit hati yang mendalam akibat pengkhianatan. Penulis yang awalnya penuh harapan, kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa orang yang dicintainya telah meninggalkannya. Menyajikan gambaran yang menyayat hati tentang cinta yang kandas dan harapan yang pupus. Melalui bahasa yang sederhana namun penuh makna, Aya berhasil menyampaikan perasaan kesedihan, kekecewaan, dan pengkhianatan yang begitu mendalam.

Berikutnya, Sore ini ada bau busuk di kebun rumahku./ Ketika kutengok, ternyata ada jari-jarimu yang tergeletak,/ Bernanah karena sudah tiga malam menggenggam mawar. (hlm.18). Aya menggambarkan kegagalan dalam mengendalikan perasaan cintanya. Cinta yang seharusnya membawa kebahagiaan justru menjadi sumber penderitaan. Mawar yang seharusnya menjadi simbol keindahan, kini menjadi simbol luka dan kepedihan. Aya berhasil menyampaikan perasaan kompleks tentang cinta, kehilangan, dan penderitaan.

Aya, menerangkan tentang apa itu arti kesedihan, kekecewaan, dan pengkhianatan menurutnya. Dengan menerangkan macam-macam makna kesedihan yang mungkin sudah tidak asing lagi di kehidupan ini. Penulis juga menyertakan makna kehidupan lewat diksi dan majas yang sangat bagus dan menyentuh hati.

Sosok Aya Canina, dalam kumpulan puisi ini lebih sering menggunakan diksi yang sederhana. Kata-kata yang dipilih terkesan sederhana namun membutuhkan waktu beberapa saat untuk memahami maknanya. Tema-tema yang diangkat cenderung berat karena mengisahkan atau menjelaskan tentang kesedihan, dan pengkhianatan. Tetapi di balik semua itu, kumpulan puisi ini sangat menyentuh hati.


 Sumber:

KM, Cep Subhan. (2022). Di Seberang Kata dan Tanda Baca, "Ia Meminjam Wajah Puisi". Diakses pada 18 Oktober 2024 dari https://cepsubhankm.com/di-seberang-kata-dan-tanda-baca-ia-meminjam-wajah-puisi/#google_vignette.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tugas Kapita Selekta Bahasa Indonesia

Nama: Arofatul Lailia NPM: 23410056 Kelas: 6B Mata Kuliah: Kapita Selekta Bahasa Indonesia Pada mata kuliah Kapita Selekta Bahasa Indonesia,...