Selasa, 11 Maret 2025

TUGAS PRAGMATIK

 

Nama: Arofatul Lailia

NPM: 23410056

Kelas: 4B

Mata Kuliah: Pragmatik

 

Contoh Pragmatik

Situasi: Seorang teman melihat jam dan berkata,

A: "Sudah jam 12 siang."

B: Mulai merapikan buku dan bersiap pergi makan siang.

 

Penjelasan:

Secara semantik, kalimat "Sudah jam 12 siang" hanya menyatakan waktu. Namun, secara pragmatik, B memahami bahwa A sebenarnya mengisyaratkan bahwa sudah waktunya makan siang tanpa perlu mengatakannya secara langsung.

 

Pengertian Pragmatik

Pragmatik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari bagaimana makna sebuah ujaran dipengaruhi oleh konteks penggunaannya. Berbeda dengan semantik yang fokus pada makna kata dan kalimat secara literal, pragmatik mempertimbangkan bagaimana bahasa digunakan dalam situasi komunikasi yang sesungguhnya.

Menurut Yule (1996), pragmatik adalah studi tentang makna yang dikomunikasikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh pendengar. Ini berarti bahwa makna dalam pragmatik tidak hanya bergantung pada struktur bahasa, tetapi juga pada konteks sosial, tujuan komunikasi, serta hubungan antara penutur dan pendengar.

 

Aspek Penting dalam Pragmatik

 

1. Konteks

Konteks sangat penting dalam pragmatik, karena makna suatu ujaran bisa berubah tergantung pada situasi, tempat, waktu, dan siapa yang berbicara.

Contoh:

Seorang guru berkata kepada muridnya, "Pintunya terbuka."

Jika diucapkan dalam kelas yang panas, ini bisa berarti "Tolong tutup pintunya."

Jika diucapkan saat ada tamu datang, bisa berarti "Silakan masuk."

 

2. Tindak Tutur

Dikembangkan oleh Austin dan Searle, teori tindak tutur menjelaskan bahwa berbicara bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga melakukan tindakan.

Jenis tindak tutur:

a.     Tindak lokusi: Ujaran yang hanya menyampaikan informasi. (Contoh: "Saya lapar.")

b.     Tindak ilokusi: Ujaran yang memiliki maksud tertentu. (Contoh: "Saya lapar." → Bisa menjadi permintaan makanan.)

c.     Tindak perlokusi: Ujaran yang mempengaruhi pendengar. (Contoh: Setelah mendengar "Saya lapar," lawan bicara memberi makanan.)

 

3. Prinsip Kerja Sama

Grice mengemukakan bahwa dalam komunikasi, penutur dan pendengar bekerja sama untuk mencapai pemahaman yang baik. Prinsip ini terdiri dari empat maksim:

a.     Maksim kuantitas: Berikan informasi secukupnya.

b.     Maksim kualitas: Berikan informasi yang benar.

c.     Maksim relevansi: Berikan informasi yang relevan.

d.     Maksim cara: Gunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami.

 

4. Prinsip Kesantunan

Dalam komunikasi, orang sering kali menggunakan strategi kesantunan agar tidak menyinggung lawan bicara.

Contoh:

"Bisa tolong tutup jendela?" lebih sopan dibanding "Tutup jendela!"

 

Perbedaan Pragmatik, Semantik, dan Sosiolinguistik

 

Ringkasan Singkat

Semantik → Memahami makna kata dan kalimat secara literal.

Pragmatik → Memahami makna berdasarkan konteks dan maksud penutur.

Sosiolinguistik → Mempelajari bagaimana bahasa dipengaruhi oleh faktor sosial seperti budaya, usia, dan lingkungan.

 

Semantik

Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna kata, frasa, dan kalimat secara sistematis. Semantik berfokus pada makna yang melekat dalam suatu kata atau kalimat tanpa mempertimbangkan konteks penggunaannya dalam situasi komunikasi tertentu. Dengan kata lain, semantik lebih menekankan makna yang bersifat tetap dan dapat dijelaskan melalui aturan bahasa.

Kata "semantik" berasal dari bahasa Yunani "semaino", yang berarti "menandakan" atau "memberi makna." Dalam kajian linguistik, semantik bertujuan untuk memahami bagaimana kata-kata dan struktur bahasa memiliki arti dan bagaimana makna tersebut dapat diinterpretasikan oleh penutur bahasa.

 

Pragmatik

Secara sederhana, pragmatik tidak hanya memperhatikan arti kata secara harfiah (seperti dalam semantik), tetapi juga bagaimana kata-kata digunakan dalam konteks tertentu untuk menyampaikan maksud tertentu.

Pragmatik sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena banyak makna dalam percakapan yang tidak tersurat secara langsung, tetapi dipahami melalui konteks.

 

Sosiolinguistik

Sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat. Ilmu ini mengkaji bagaimana faktor sosial seperti budaya, kelas sosial, usia, gender, lingkungan, dan latar belakang etnis memengaruhi penggunaan bahasa.

Sederhananya, sosiolinguistik mencoba memahami bagaimana bahasa digunakan dalam berbagai konteks sosial dan mengapa orang berbicara dengan cara tertentu dalam situasi yang berbeda.

Sosiolinguistik berasal dari dua kata:

"Sosio-" yang berarti masyarak

"Linguistik" yang berarti ilmu bahasa

Karena itu, sosiolinguistik mempelajari bagaimana bahasa berfungsi dalam masyarakat dan bagaimana masyarakat memengaruhi perkembangan bahasa.

SEJARAH PRAGMATIK

 

Nama: Arofatul Lailia

NPM: 23410056

Kelas: 4B

Mata Kuliah: Pragmatik

 

Mahasiswa diharapkan memelajari dan memiliki pemahaman tentang:

 

a. Sejarah lahirnya pragmatik

Jawab:

Oleh para linguis Amerika, pragmatik sebagai salah satu kajian bahasa dianaktirikan. Terbitnya buku Language karya Leonard Bloomfield seorang linguis Amerika pada tahun 1933 membatasi gerak para linguis waktu itu untuk mengkaji bahasa pada bidang struktural dan konkret. Aliran struktural yang dipelopori oleh Bloomfield sendiri pada waktu itu (sekitar tahun 1930-an s.d.1950-an) sangat berpengaruh. Kajian bahasa yang utama dan paling konkret waktu itu adalah fonologi.

Bloomfield berangkat dari behaviorisme dalam psikologi yang dominan di Amerika sejak 1920. Menurut pandangan behaviorisme bahwa tingkah laku manusia dapat diterangkan berdasarkan situasi-situasi- bebas dari faktor-faktor internal. Ujaran bisa dijelaskan dengan kondisi-kondisi eksternal yang ada di sekitar kejadiannya. Sejalan dengan aliran atau pandangan behaviorisme dalam psikologi inilah, kaum strukturalis menganggap bahwa hal-hal yang tidak struktural atau tidak konkret (semantik dan pragmatik) bukan merupakan lahan linguistik.

Perkembangan linguistik selanjutnya menganut aliran kognitif dalam psikologi, yakni ditandai dengan kemunculan teori Tatabahasa Transformasi dari Noam Chomsky melalui buku Syntactic Structure (1957). Pada waktu itu, Chomsky mengemukakan 2 istilah dikotomis yaitu competence dan performance. Linguistik membatasi penelitiannya pada bidang kompetensi.

Dalam perkembangannya, timbullah kesadaran di kalangan linguis pada waktu itu bahwa tatabahasa harus memasukkan semantik, bukan saja fonologi, morfologi, dan sintaksis; meskipun masih hanya mencakup kompetensi.

Pembatasan kajian bahasa pada segi kompetensi dan semantik ini dirasa tidak wajar bagi para linguis yang ingin mengkaji pengaruh bahasa di masyarakat. Beberapa linguis mulai terpengaruh karya filsuf-filsuf seperti Austin (1962), Searle (1971), dan Grice (1964) terutama dalam bidang pertuturan (speech acts). Oleh sebab itu, timbullah perkembangan di bidang semantik dan pragmatik dalam linguistik.

Saat itulah (1970-an) bidang pragmatik mulai disorot dan diperhatikan oleh para linguis. Tahun 1977, pragmatik sebagai kajian bahasa resmi diperhatikan oleh para linguis dengan munculnya majalah Journal of Pragmatics yang menerbitkan karya-karya pragmatik. Suatu organisasi yang menaruh perhatikan besar terhadap bidang pragmatik segera dibentuk, yaitu IPRA (International Pragmatis Association). Tahun 1980 dan 1990 pragmatik mencatat perkembangannya yang sangat pesat.

 

b. Kedudukan pragmatik dalam tataran linguistik

Jawab:

Pragmatik berdasarkan ruang lingkup dibagi menjadi empat, yaitu sebagai berikut.

1.     1. Pragmatik merupakan studi tentang maksud penutur. Makna yang disampaikan penutur dan ditafsirkan oleh pendengar.

2.     2. Pragmatik merupakan studi tentang makna kontekstual (siapa, di mana, kapan dan bagaimana).

3.    3.  Pragmatik merupakan studi tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan/ dikomunikasikan daripada yang dituturkan (studi pencarian makna yang tersamar).

4.    4.  Pragmatik merupakan studi tentang ungkapan dari jarak hubungan (kedekatan/keakraban).

Selanjutnya, untuk melihat kedudukan pragmatik dalam linguistik, dapat dilihat dari hubungan antara sintak, semantik dan pragmatik. (1) Sintak adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk kebahasaan, bagaimana menyusun bentuk-bentuk kebahasaan itu dalam suatu tatanan dan tatanan mana yang tersusun dengan baik. (2) Semantik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dengan entitas di dunia, yaitu bagaimana hubungan kata-kata dengan sesuatu secara harfiah. Semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, selain itu semantik juga terikat pada kaidah (rule-governed). (3) Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakai bentuk-bentuk itu. Pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya dan terikat pada prinsip (principle-governed). Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain.

    Selain kedudukan di atas pragmatik dan semantik memiliki hubungan yang unik. Ketika posisi pragmatik sebagai ilmu, maka semantik (makna harfiah) berposisi di bawah pragmatik atau semantik bagian dari pragmatik yang disebut pragmatisisme. Dan apabila pragmatik menjadi bagian dari semantik disebut semantisisme.

 

c. Perlunya memelajari pragmatik

Jawab:

Berikut beberapa peran pragmatik dalam pembelajaran bahasa yang dapat dicermati.

1.     1. Meningkatkan Pemahaman Konteks

Dalam pembelajaran bahasa, memahami konteks sangat penting agar mahasiswa dapat menggunakan bahasa dengan tepat. Pragmatik mengajarkan mahasiswa untuk memahami makna tersirat, seperti sarkasme, humor, atau sopan santun yang tidak selalu terlihat dalam teks.

2.    2.  Mengasah Kemampuan Berkomunikasi Efektif

Pembelajaran pragmatik membantu mahasiswa menguasai kemampuan komunikasi yang lebih dari sekadar tata bahasa. Mereka diajarkan untuk memperhatikan elemen seperti intonasi, ekspresi wajah, atau penggunaan jeda dalam berbicara untuk menyampaikan maksud dengan jelas.

3.    3.  Mengatasi Hambatan Budaya

Pragmatik juga membantu mahasiswa memahami perbedaan budaya dalam penggunaan bahasa. Beberapa ekspresi atau ungkapan mungkin memiliki arti yang berbeda di berbagai budaya. Dengan mempelajari pragmatik, mahasiswa dapat berkomunikasi lebih sensitif terhadap norma budaya tertentu.

Tugas Kapita Selekta Bahasa Indonesia

Nama: Arofatul Lailia NPM: 23410056 Kelas: 6B Mata Kuliah: Kapita Selekta Bahasa Indonesia Pada mata kuliah Kapita Selekta Bahasa Indonesia,...