Oleh Arofatul Lailia
Identitas Buku
Judul : Ia Meminjam Wajah
Puisi
Pengarang : Aya Canina
Penerbit : Basabasi
Tebal buku : 86 halaman
Cetakan : 1, April 2020
Tahun terbit : 2020
ISBN : 978-623-7290-84-1
Kesedihan,
pengkhianatan, dan rasa sakit hati ialah beberapa toping kecil yang menemani
kehidupan. Membuat setiap cerita hidup menjadi lebih pahit dan manis bercampur
aduk. Namun, justru dari sanalah kita belajar tentang kekuatan, ketahanan, dan
arti sejati kebahagiaan. Dari kesedihan itu pula, Aya Canina berhasil
mengemasnya menjadi serangkaian puisi dalam buku yang berjudul Ia Meminjam
Wajah Puisi (Basabasi, cetakan pertama 2020).
Mengutip
Goenawan Mohamad dalam pengantar Gandari (Jakarta: Tempo, 2013), penyusunan
puisi dalam sebuah antologi secara kronologis kadang-kadang memang penting
untuk tujuan telaah dan tidak ada hubungannya dengan “menikmati” puisi. Akan
tetapi tinjauan ringkas ini mencoba mencari tautan-tautan antar (baris) puisi
tanpa mengikuti tertib kronologis demi kenikmatan menjelajahi satu antologi
puisi sebagai satu puzzle yang kadang mengajak kita mundur menengok
ulang potongan yang sudah kita letakkan dalam konstruksi sebelum maju kembali
untuk menggantinya dengan potongan lain yang terasa lebih pas.
Buku
Ia Meminjam Wajah Puisi berisikan kumpulan puisi yang memiliki tema
tersendiri. Aya menerangkan banyak kesedihan, pengkhianatan, dan rasa
kehilangan mendalam yang disusun dengan sangat elok menggunakan bahasa puitis
dan sederhana. Dalam ulasan ini, akan diulas beberapa puisi, yang mengusung
tema penderitaan, kehilangan, dan pengkhianatan.
Mengutip
Cep Subhan KM dalam resensi buku puisi Di Seberang
Kata dan Tanda Baca, "Ia Meminjam Wajah Puisi" (Komunitas
Imajiner, 2020). Antologi ini memuat puisi-puisi lirik, terlihat dari
dominannya monolog yang memang merupakan salah satu, tetapi bukan satu-satunya,
ciri khas puisi lirik, terkadang dalam bentuk puisi-prosa. Kita temukan juga
satu tampilan puisi berpola pada akhir puisi “Luka Sama Dipikul, Pilu Sama
Dijinjing”, menampilkan empat baris penutup dengan jarak baris menjauh dari
atas ke bawah menyimbolkan gerak melemparkan dadu dan repetisi tiap kata
penyusun baris keempat sebelum akhir pada masing-masing 3 baris selanjutnya
sebagai gambaran ketidakpastian angka—berdasarkan konteks puisi menyimbolkan
“ketidakpastian nasib”—yang akan muncul.
Buku
ini diawali dengan pengantar dan beberapa identitas lainnya. Lalu, dilanjut
dengan sajian puisi-puisi yang Aya tulis. Puisi pertama dalam buku ini berjudul
Mayat Pelacur, di mana dalam puisi ini menggambarkan potret menyedihkan
seorang perempuan yang merasa mati secara perlahan dalam kehidupannya. Menyajikan
gambaran yang menyayat hati tentang kesepian, penderitaan, dan kematian seorang
perempuan. Melalui bahasa yang sederhana namun penuh makna.
Pohon
yang kian tabah ditinggal anak-anaknya pergi,/ Daun yang sebenarnya membenci
angin,/ Karena dipaksa jauh dari ibunya. (hlm.3). Dalam puisi
ini, Aya menyuarakan tentang kekuatan hidup yang mampu bertahan di tengah
segala keterbatasan dan penderitaan. Setiap objek yang disebutkan dalam puisi
ini memiliki makna yang mendalam, menggambarkan berbagai kehidupan manusia. Mengajak
kita untuk merenungkan makna kehidupan, kekuatan untuk bertahan, dan pentingnya
memiliki harapan di tengah kesulitan. Pesan yang disampaikan sangat bagus dan
dapat menginspirasi siapa saja yang membacanya.
Dan
beginilah kiranya./ Kau suruh aku menunggu,/ Sementara di balik pintu kau
bercumbu,/ Dengan gincu yang tak pernah kutahu milik siapa.
(hlm.5). Aya seolah-olah menjelaskan tentang rasa sakit hati yang mendalam
akibat pengkhianatan. Penulis yang awalnya penuh harapan, kini harus menghadapi
kenyataan pahit bahwa orang yang dicintainya telah meninggalkannya. Menyajikan
gambaran yang menyayat hati tentang cinta yang kandas dan harapan yang pupus.
Melalui bahasa yang sederhana namun penuh makna, Aya berhasil menyampaikan
perasaan kesedihan, kekecewaan, dan pengkhianatan yang begitu mendalam.
Berikutnya,
Sore ini ada bau busuk di kebun rumahku./ Ketika kutengok, ternyata ada
jari-jarimu yang tergeletak,/ Bernanah karena sudah tiga malam menggenggam
mawar. (hlm.18). Aya menggambarkan kegagalan dalam mengendalikan perasaan
cintanya. Cinta yang seharusnya membawa kebahagiaan justru menjadi sumber
penderitaan. Mawar yang seharusnya menjadi simbol keindahan, kini menjadi
simbol luka dan kepedihan. Aya berhasil menyampaikan perasaan kompleks tentang
cinta, kehilangan, dan penderitaan.
Aya,
menerangkan tentang apa itu arti kesedihan, kekecewaan, dan pengkhianatan
menurutnya. Dengan menerangkan macam-macam makna kesedihan yang mungkin sudah
tidak asing lagi di kehidupan ini. Penulis juga menyertakan makna kehidupan
lewat diksi dan majas yang sangat bagus dan menyentuh hati.
Sosok
Aya Canina, dalam kumpulan puisi ini lebih sering menggunakan diksi yang
sederhana. Kata-kata yang dipilih terkesan sederhana namun membutuhkan waktu
beberapa saat untuk memahami maknanya. Tema-tema yang diangkat cenderung berat
karena mengisahkan atau menjelaskan tentang kesedihan, dan pengkhianatan.
Tetapi di balik semua itu, kumpulan puisi ini sangat menyentuh hati.
KM, Cep Subhan. (2022). Di
Seberang Kata dan Tanda Baca, "Ia Meminjam Wajah Puisi". Diakses pada
18 Oktober 2024 dari https://cepsubhankm.com/di-seberang-kata-dan-tanda-baca-ia-meminjam-wajah-puisi/#google_vignette.

.jpeg)
