Sebuah Peran
Sebuah
panggung terletak di tengah-tengah, lantainya terbuat dari kayu yang mulai
keropos, dengan sebuah tirai yang berada di tengah, berwarna biru yang kini
berganti kelabu karena dimakan usia. Di balik panggung yang penuh akan ornamen
itu, Arman duduk dengan sebuah naskah digenggamannya. Di depannya ada cermin
besar yang memantulkan wajah, riasannya menyerupai penjahat, alis tebal, dan
mata yang ditajamkan seperti tokoh jahat di sebuah lakon kolosal.
Arman
kembali menatap wajahnya di cermin, ini sudah ke sekian kalinya ia harus
memerankan karakter jahat, lima tahun Arman bergulat dengan sosok-sosok jahat,
tertawa lantang, senyum bengis, serta tatapan tajam tanpa berkedip sudah ia
kuasai. Hingga penonton memandangnya tidak jauh berbeda dengan peran-peran yang
ia mainkan.
Panggung
sandiwara dimulai, ia bangkit lantas mempersiapkan diri. Di peran ini, Arman
memerankan Duryudana yang merupakan anak pertama dari Dretarastra dan Gandari.
Ia menjadi tokoh antagonis utama dalam cerita Mahabharata. Duryudana memiliki
sifat licik dan selalu iri hati akan kelebihan Pandawa.
Arman
hanya berlatih selama satu bulan untuk memerankan Duryudana. Keseringan
memerankan karakter jahat, membuatnya mudah mendalami peran Duryudana yang
licik.
"Hentikan
Yudistira! Aku tidak butuh belas kasihanmu di sini, setelah apa yang kau dan
adik-adikmu perbuat terhadap semua saudaraku, itu... tidak akan bisa aku
maafkan!" Arman menunjuk Yudistira dengan tatapan yang tajam.
"Arjuna...
kau pikir kau bisa membunuhku hah?!Aku telah dilindungi oleh Dewa Siwa dan
tidak akan bisa dikalahkan oleh busur gandivamu itu." Arman berkata dengan
lantang dan angkuh, ciri khas dari Duryudana.
Percakapan
antara Duryudana, Arjuna dan Yudistira kembali berlanjut. Arman tetap
mempertahankan keangkuhannya hingga dialog berikutnya.
"Hahaha...
Bima, di mana dia? Akan kubunuh dia sekarang... hahaha!!" Tawa Arman
menggelegar, penonton serentak mengeluarkan ekspresi bencinya terhadap karakter
Duryudana.
Arman
merentangkan tangannya, dagunya ia angkat ke atas sebagai sosok yang angkuh.
"Kemarilah
Bima, kau lah lawan yang sepadan denganku."
Seperti
itulah kira-kira dialog yang Arman perankan dalam lakon Mahabharata kali ini.
Pertunjukan sudah selesai, ia melepaskan aksesoris di tubuhnya. Kemudian
beralih menghapus riasan di wajahnya, seperti biasa Arman puas dengan perannya
kali ini.
"Wah
keren sekali peranmu, Man," ujar Wira setelah sebelumnya menepuk pundak
Arman dari belakang.
Arman
melirik ke belakang, lalu kembali menghadap ke depan. "Bukannya aku selalu
bagus dalam berperan?" Jawaban Arman ia bumbui dengan kesombongan.
Wira
menampilkan senyum culas. "Iya juga, kamu aktor antagonis terhebat di
sini."
Mendengar
itu Arman berdecih. "Pergilah kamu! Menggangguku saja."
Wira
mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan sikap Arman yang selalu seperti
ini. Iya, Arman selalu saja berlagak layaknya antagonis, tidak hanya di dunia
peran, tetapi di dunia nyata juga.
"Sudahlah,
Man. Sudah selesai dramanya, kenapa kamu masih memperlihatkan ekspresi
Duryudana sih."
"Ini
bukan ekspresi Duryudana, tapi ekspresiku sendiri!" Sergah Arman.
Wira
yang merupakan teman Arman sejak kecil pun sontak menggelengkan kepalanya.
"Bukan, kamu bukan Arman yang dulu, sebelum ikut drama kamu tidak seperti
ini."
Bukan
mengapa, Wira tahu betul bagaimana sifat dan karakter Arman dulu. Yang baik
hati dan selalu menyapanya. Tetapi setelah bergabung dengan drama dan
memerankan banyak karakter penjahat, Arman menjadi berubah, sifatnya selalu
menyerupai tokoh yang ia perankan.
"Yang
tahu menahu tentangku ya diriku sendiri, Wira, lebih baik kamu diam saja dan
pergi dari hadapanku."
Karena
tidak mau memperpanjang masalah, Wira akhirnya pergi dari hadapan Arman. Kini
Arman sudah kembali tenang dan fokus dengan kegiatannya yang awal tadi.
**
Keesokan
harinya, Arman hendak pergi ke sebuah toko kelontong, di sepanjang perjalanan,
banyak sekali tatapan mata sinis yang mengiringi langkahnya. Arman tahu itu,
telinga Arman juga masih berfungsi dengan baik hingga mendengar banyak mulut
yang membicarakan hal buruk tentangnya.
"Iya,
itu si Arman, pemuda jahat dan sombong," ucap salah satu ibu berbaju
kuning.
"Lihat
tatapan matanya, ih seram ya, saya rasa dia sudah kerasukan," sambung ibu
berbaju merah.
Terlihat
ibu yang sedang menggendong anak sedikit memukul lengan ibu berbaju merah tadi.
"Hush, jangan bicara aneh-aneh."
Ibu
baju merah tidak terima dipukul oleh ibu yang menggendong anak. "Saya
tidak bicara aneh-aneh, tanya ke seluruh warga desa, banyak yang tidak
menyukainya karena sifatnya yang jelek. Dia sudah kerasukan karakter jahat yang
dia perankan."
Arman
yang sudah muak pun akhirnya menghampiri ibu-ibu itu, mereka serentak mundur
perlahan karena aura Arman tidak mengenakkan.
"Apa
yang kalian bicarakan? Kalian tidak tahu seni? Kalian tidak tahu seni
pertunjukan? Saya memang memerankan karakter jahat, tapi bukan berarti saya
juga jahat!" Arman mengepalkan kedua tangannya.
"Lihat
itu ibu-ibu, matanya dia tajam sekali, benar apa yang saya katakan tadi, kalau
dia ini memang sudah kerasukan." Ibu baju merah menunjuk wajah Arman.
Arman
hendak kembali bersuara, namun suara anak kecil mengganggu eksistensinya.
"Ada
Duryudana, lari teman-teman!" Bocah kecil menginterupsi teman-temannya.
Lantas sekumpulan anak-anak itu lari setelah melihat Arman. Arman mengerlingkan
matanya, kejadian seperti ini sudah terjadi berkali-kali.
"Mereka
sampai lari lho gegara lihat kamu, Arman. Berarti memang benar kalau kamu itu
jahat." Ibu baju kuning bersuara.
Emosi
Arman memuncak, tatapannya menghunus ibu-ibu di hadapannya.
"Kalian
semua tidak tahu seni! Tidak tahu bagaimana orang memerankan karakter dengan
sempurna!" Setelah mengucapkan itu Arman pergi dari sana, berbalik arah
menuju rumahnya, menghilangkan niat awal yang ingin pergi ke toko kelontong.
Sesampainya
di rumah, Arman duduk di teras, lebih tepatnya di kursi kayu yang sudah lapuk.
Ia sejenak mengontrol emosinya, berhadapan dengan orang yang tidak tahu menahu tentang
seni pertunjukan cukup menguras energinya.
Bu
Retno yang merupakan ibu Arman datang dari bilik belakang, kini duduk di
sebelah anak laki-lakinya itu. "Kenapa kamu, Nak? Sepertinya kamu sedang
tidak baik-baik saja?"
Arman
mengangguk singkat. "Orang-orang bodoh itu kembali menggunjingku,
Ibu."
Bu
Retno mengerutkan keningnya. "Orang-orang bodoh siapa?"
Arman
berdecak. "Ya orang-orang desa, semua orang mengecapku buruk, jahat,
sombong. Hanya karena aku memerankan karakter jahat."
Bu
Retno lantas mengangguk paham, ia sedikit menggeser tubuhnya untuk mendekat ke
arah Arman. Ia memegang lengan anaknya itu dengan berniat mendamaikan hati
Arman.
"Arman,
Ibu paham apa yang kamu rasakan. Tapi... Ibu juga merasakan hal yang sama
dengan mereka."
Arman
menoleh dengan tatapan tajamnya, apa maksud ucapan ibunya? Jadi selama ini
ibunya juga menganggapnya sebagai orang yang jahat pula?
"Ibu
ingin mengatakan jika aku jahat juga?!" Volume suara Arman naik beberapa
oktaf.
Bu
Retno menggeleng panik, ia tidak ingin Arman membencinya, "Bukan seperti
itu, Nak, tapi Ibu merasa kamu sudah berbeda. Kemarin lusa kamu menghajar
orang, minggu lalu kamu memukul orang hingga masuk rumah sakit. Ibu rasa
penyebabnya karena keseringan memerankan karakter jahat, secara tidak langsung
energi jahat itu juga masuk ke dalam dirimu."
Arman
tidak percaya jika ucapan itu muncul dari mulut ibunya sendiri. Orang yang
Arman yakini akan membelanya, justru membenarkan perkataan orang-orang yang
menggunjingnya.
"Ibu
tidak tahu seni, jika Arman memerankan karakter jahat itu artinya Arman harus
mendalami peran itu, masuk ke dalam peran itu. Bukan berarti Arman jahat!"
"Kamu
yang tidak tahu, Nak. Orang-orang terkhususnya Ibu, merasakan itu. Merasa kalau
kamu bukan Arman, melainkan sosok lain di dalam tubuhmu." Perkataan Bu
Retno berhasil membuat Arman terdiam sejenak.
Melihat
Arman yang termenung membuat Bu Retno beralih memegang pundak Arman, mencoba
menjelaskan kembali.
"Tubuh
kamu sudah dikuasai oleh peranmu sendiri. Maka dari itu, kamu harus mengusir
peran itu agar sifatmu yang asli kembali keluar."
Arman
menghempaskan tangan Bu Retno yang bertengger di pundaknya, "Ibu sudah
berlebihan, tidak seharusnya Ibu berkata seperti itu!"
Bu
Retno terkejut dengan perlakuan Arman terhadapnya, memandang anaknya dengan
tatapan tidak percaya. Ia semakin yakin jika Arman sudah benar-benar berubah.
"Yang
Ibu katakan itu benar, Nak. Sekarang Ibu tanya, apakah kamu nyaman dengan
pandangan orang-orang yang mengecapmu sebagai penjahat? Tidak kan? Coba kamu
renungkan sendiri," ucap Bu Retno lalu pergi dari sana, membiarkan Arman
merenungi masalahnya.
Perkataan
Bu Retno sejenak berkeliaran di kepala Arman. Apa yang dikatakan ibunya juga
ada benarnya, Arman tidak nyaman dengan pandangan warga terhadapnya. Ia merasa
terkucilkan di desa ini, ia juga merasa jika tubuhnya seperti dikontrol oleh
karakter seseorang.
**
Beberapa
hari ini, Arman selalu mengurung diri di rumah, merenungi segala hal, peran,
diri, dan citra yang ada pada sosoknya. Malam-malam kini tak lagi berhadapan
dengan riasan wajah dan naskah, melainkan bergulat dengan isi kepala.
Hingga
pada sore hari, Wira datang dengan membawa sebuah kabar.
"Man,
kamu tahu ‘kan kalau kita ada proyek lakon Ramayana untuk pentas budaya bulan
depan?" Tanya Wira sembari duduk di samping Arman. Meskipun Arman berlaku
tak baik dengannya tempo hari lalu, namun Wira tidak lagi mempermasalahkan itu.
Arman
mengangguk sekilas. "Aku diperintah untuk jadi Rahwana?" Tebaknya,
lagi pula ia yakin jika akan memerankan karakter antagonis lagi.
"Kamu
ditawari jadi Rama." Perkataan Wira berhasil membuat Arman mengerutkan
dahi, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Rama?
Karakter protagonis itu?"
"Iya,"
jawab Wira sambil tersenyum.
"Dalang
kita menginginkan hal baru, katanya, ‘Kalau suatu aktor bisa memerankan peran
jahat dengan sempurna, maka ia pasti bisa jadi baik dengan sempurna pula.’"
Arman
tertawa kecil, tapi tidak dengan rasa senang. "Aku? Rama? Selucon apa ini
Wira? Aku bahkan tidak bisa senyum tanpa kelihatan sinis."
"Tapi
kamu mau mencobanya, ‘kan? Ayolah Arman, sekali-kali perankan karakter
baik."
Arman
menatap kosong ke depan, lalu mengangguk pelan. "Aku... akan mencobanya."
**
Hari-hari
berlalu bagai ujian mental bagi Arman. Ia harus bersusah payah memerankan
karakter protagonis. Ia belajar mengecilkan volume suara, mencoba berbicara
dengan pelan, berhenti menggerakkan badan seperti hendak mengintimidasi.
Melunakkan tatapannya, ia memandangi wajahnya di cermin, mencoba tersenyum
seperti sosok Rama yang suci, tapi yang terlihat di sana masih bayangan kejam
Duryudana.
Ia
mengulang dialog berkali-kali, tetapi nada suaranya selalu mengandung tekanan.
Di awal, ia gagal menyampaikan karakter lembut sosok Rama. Dalang sering
menggeleng dan memberi masukan, serta Wira pun terus membantunya dengan sabar.
"Rama
itu bukan lemah, Man. Tapi ia berwibawa dan tenang. Kebaikannya itu bukan
pura-pura, tapi karena ia tahu bahwa kekuatan terbesar adalah mengendalikan diri
supaya tenang," ucap Wira pada suatu malam.
Kalimat
itu berhasil mengetuk kesadaran Arman. Ia mulai menonton
pertunjukan-pertunjukan lama di ponsel, mendalami cerita Ramayana dari sisi
emosional. Tak hanya itu, ia juga mencoba berjalan di desa dengan senyum, meski
kikuk dan canggung. Ia menyapa anak-anak, walau mereka masih takut dan
bersembunyi di balik kaki ibunya.
Namun
hari demi hari, perlahan wajah Arman yang baru mulai terbentuk. Ia menjadi
lebih tenang. Ia berbicara dengan lembut saat berlatih, tak lagi meledak-ledak.
Para anggota tim drama mulai merasa seperti melihat sosok baru yang selama ini
tersembunyi dari diri Arman.
**
Hari
pertunjukan.
Dengan
busana berwarna biru langit, selendang kuning yang menjuntai ke bawah, tak lupa
busur yang tergantung di punggungnya, Arman berdiri di balik tirai. Kali ini,
tidak ada guratan hitam di wajahnya, tidak ada senyum bengis. Ia adalah Rama,
penuh wibawa dan kelembutan.
"Dengarkan
aku, Shinta. Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak mempercayaimu," ucap
Arman sebagai sosok Rama di panggung, suaranya tenang, penuh perasaan.
Penonton
terpukau. Mereka tak menyangka aktor yang selama ini dikenal angkuh dan
menyeramkan bisa memerankan sosok Rama yang penuh ketulusan. Anak-anak yang
dulu lari, kini diam terpaku. Ibu-ibu yang biasa menggunjing kini diam membisu,
beberapa bahkan meneteskan air mata.
Saat
pertunjukan usai, tepuk tangan menggelegar.
Arman
membungkuk memberi hormat, lalu tersenyum dengan tulus. Kali ini, senyumnya
lembut dan asli.
Di
belakang panggung, Wira menghampirinya sembari menepuk bahu. "Selamat
datang kembali, Arman."
Dan
untuk pertama kalinya, Arman tidak membalas dengan sinis. Ia hanya tertawa
kecil, lalu menjawab, "Seharusnya... aku jadi Rama sejak awal."
Sejak
saat itu, warga desa mulai berubah terhadap Arman. Warga tidak lagi menatapnya
dengan sinis dan benci. Anak-anak mulai menghampirinya dengan rasa kagum. Citra
Arman perlahan berubah menjadi baik. Ia berhasil mengizinkan dirinya untuk
berubah. Dan di cermin yang sama tempat ia dulu melihat bayangan penjahat, kini
ia melihat seseorang yang baru, seorang aktor, seorang seniman… dan seorang
manusia yang kembali menjadi dirinya sendiri.
TAMAT
Arofatul
Lailia, lahir di Kendal 13 Januari 2005. Anak bungsu yang enggan mengakui jika
dirinya bungsu (rumit memang). Penggemar sastra sekaligus seni yang sedang
mencari jati dirinya. Hobiku membaca serta menulis semua omong kosong yang
berada di kepalaku. Aku juga suka mendengarkan musik dan penggemar nomor satu
Stray Kids.