Rabu, 22 April 2026

Tugas Kapita Selekta Bahasa Indonesia

Nama: Arofatul Lailia

NPM: 23410056

Kelas: 6B

Mata Kuliah: Kapita Selekta Bahasa Indonesia


Pada mata kuliah Kapita Selekta Bahasa Indonesia, saya memiliki dasar pengetahuan linguistik dari semester sebelumnya, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan lainnya. Dari materi-materi tersebut, saya memahami bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga memiliki sistem dan makna yang kompleks.

Saya menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa sering kali tidak selalu sesuai dengan makna harfiah. Contohnya, ungkapan seperti “panjang tangan” yang bermakna suka mencuri, atau penggunaan kata tidak baku seperti “gasss” yang menunjukkan ekspresi tertentu. Hal ini membuat saya memahami bahwa bahasa terus berkembang dan dipengaruhi oleh konteks sosial.

Melalui mata kuliah Kapita Selekta Bahasa Indonesia yang akan datang, saya berharap dapat mengingat kembali, mengaitkan, dan memperdalam pemahaman saya tentang konsep-konsep linguistik yang telah dipelajari. Saya juga ingin belajar untuk lebih kritis dalam menganalisis penggunaan bahasa, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam teks.

Dari referensi yang saya temukan: Kapita Selekta Bahasa Indonesia adalah kumpulan topik pilihan, isu aktual, dan materi esensial terkait kebahasaan dan sastra Indonesia. Isinya mencakup studi mendalam tentang fonologi, morfologi, sintaksis, apresiasi sastra (prosa/puisi/drama), perkembangan kurikulum, serta metode pengajaran bahasa terkini.

Secara lebih rinci, isi Kapita Selekta Bahasa Indonesia biasanya meliputi:

1. Aspek Kebahasaan (Linguistik): Bahasan mendalam mengenai fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik dalam bahasa Indonesia.

2. Apresiasi Sastra: Studi dan aplikasi sastra, mencakup apresiasi puisi, prosa fiksi, dan drama.

3. Pengajaran dan Pembelajaran: Fokus pada metode, teknik, dan media pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif.

4. Isu Aktual: Analisis isu-isu khusus atau tren terbaru dalam penggunaan dan perkembangan bahasa Indonesia.

5. Evaluasi Pembelajaran: Materi mengenai teknik evaluasi dalam pendidikan bahasa.

Sabtu, 28 Maret 2026

Cerpen

Sebuah Peran

Sebuah panggung terletak di tengah-tengah, lantainya terbuat dari kayu yang mulai keropos, dengan sebuah tirai yang berada di tengah, berwarna biru yang kini berganti kelabu karena dimakan usia. Di balik panggung yang penuh akan ornamen itu, Arman duduk dengan sebuah naskah digenggamannya. Di depannya ada cermin besar yang memantulkan wajah, riasannya menyerupai penjahat, alis tebal, dan mata yang ditajamkan seperti tokoh jahat di sebuah lakon kolosal.

Arman kembali menatap wajahnya di cermin, ini sudah ke sekian kalinya ia harus memerankan karakter jahat, lima tahun Arman bergulat dengan sosok-sosok jahat, tertawa lantang, senyum bengis, serta tatapan tajam tanpa berkedip sudah ia kuasai. Hingga penonton memandangnya tidak jauh berbeda dengan peran-peran yang ia mainkan.

Panggung sandiwara dimulai, ia bangkit lantas mempersiapkan diri. Di peran ini, Arman memerankan Duryudana yang merupakan anak pertama dari Dretarastra dan Gandari. Ia menjadi tokoh antagonis utama dalam cerita Mahabharata. Duryudana memiliki sifat licik dan selalu iri hati akan kelebihan Pandawa.

Arman hanya berlatih selama satu bulan untuk memerankan Duryudana. Keseringan memerankan karakter jahat, membuatnya mudah mendalami peran Duryudana yang licik.

"Hentikan Yudistira! Aku tidak butuh belas kasihanmu di sini, setelah apa yang kau dan adik-adikmu perbuat terhadap semua saudaraku, itu... tidak akan bisa aku maafkan!" Arman menunjuk Yudistira dengan tatapan yang tajam.

"Arjuna... kau pikir kau bisa membunuhku hah?!Aku telah dilindungi oleh Dewa Siwa dan tidak akan bisa dikalahkan oleh busur gandivamu itu." Arman berkata dengan lantang dan angkuh, ciri khas dari Duryudana.

Percakapan antara Duryudana, Arjuna dan Yudistira kembali berlanjut. Arman tetap mempertahankan keangkuhannya hingga dialog berikutnya.

"Hahaha... Bima, di mana dia? Akan kubunuh dia sekarang... hahaha!!" Tawa Arman menggelegar, penonton serentak mengeluarkan ekspresi bencinya terhadap karakter Duryudana.

Arman merentangkan tangannya, dagunya ia angkat ke atas sebagai sosok yang angkuh.

"Kemarilah Bima, kau lah lawan yang sepadan denganku."

Seperti itulah kira-kira dialog yang Arman perankan dalam lakon Mahabharata kali ini. Pertunjukan sudah selesai, ia melepaskan aksesoris di tubuhnya. Kemudian beralih menghapus riasan di wajahnya, seperti biasa Arman puas dengan perannya kali ini.

"Wah keren sekali peranmu, Man," ujar Wira setelah sebelumnya menepuk pundak Arman dari belakang.

Arman melirik ke belakang, lalu kembali menghadap ke depan. "Bukannya aku selalu bagus dalam berperan?" Jawaban Arman ia bumbui dengan kesombongan.

Wira menampilkan senyum culas. "Iya juga, kamu aktor antagonis terhebat di sini."

Mendengar itu Arman berdecih. "Pergilah kamu! Menggangguku saja."

Wira mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan sikap Arman yang selalu seperti ini. Iya, Arman selalu saja berlagak layaknya antagonis, tidak hanya di dunia peran, tetapi di dunia nyata juga.

"Sudahlah, Man. Sudah selesai dramanya, kenapa kamu masih memperlihatkan ekspresi Duryudana sih."

"Ini bukan ekspresi Duryudana, tapi ekspresiku sendiri!" Sergah Arman.

Wira yang merupakan teman Arman sejak kecil pun sontak menggelengkan kepalanya. "Bukan, kamu bukan Arman yang dulu, sebelum ikut drama kamu tidak seperti ini."

Bukan mengapa, Wira tahu betul bagaimana sifat dan karakter Arman dulu. Yang baik hati dan selalu menyapanya. Tetapi setelah bergabung dengan drama dan memerankan banyak karakter penjahat, Arman menjadi berubah, sifatnya selalu menyerupai tokoh yang ia perankan.

"Yang tahu menahu tentangku ya diriku sendiri, Wira, lebih baik kamu diam saja dan pergi dari hadapanku."

Karena tidak mau memperpanjang masalah, Wira akhirnya pergi dari hadapan Arman. Kini Arman sudah kembali tenang dan fokus dengan kegiatannya yang awal tadi.

**

Keesokan harinya, Arman hendak pergi ke sebuah toko kelontong, di sepanjang perjalanan, banyak sekali tatapan mata sinis yang mengiringi langkahnya. Arman tahu itu, telinga Arman juga masih berfungsi dengan baik hingga mendengar banyak mulut yang membicarakan hal buruk tentangnya.

"Iya, itu si Arman, pemuda jahat dan sombong," ucap salah satu ibu berbaju kuning.

"Lihat tatapan matanya, ih seram ya, saya rasa dia sudah kerasukan," sambung ibu berbaju merah.

Terlihat ibu yang sedang menggendong anak sedikit memukul lengan ibu berbaju merah tadi. "Hush, jangan bicara aneh-aneh."

Ibu baju merah tidak terima dipukul oleh ibu yang menggendong anak. "Saya tidak bicara aneh-aneh, tanya ke seluruh warga desa, banyak yang tidak menyukainya karena sifatnya yang jelek. Dia sudah kerasukan karakter jahat yang dia perankan."

Arman yang sudah muak pun akhirnya menghampiri ibu-ibu itu, mereka serentak mundur perlahan karena aura Arman tidak mengenakkan.

"Apa yang kalian bicarakan? Kalian tidak tahu seni? Kalian tidak tahu seni pertunjukan? Saya memang memerankan karakter jahat, tapi bukan berarti saya juga jahat!" Arman mengepalkan kedua tangannya.

"Lihat itu ibu-ibu, matanya dia tajam sekali, benar apa yang saya katakan tadi, kalau dia ini memang sudah kerasukan." Ibu baju merah menunjuk wajah Arman.

Arman hendak kembali bersuara, namun suara anak kecil mengganggu eksistensinya.

"Ada Duryudana, lari teman-teman!" Bocah kecil menginterupsi teman-temannya. Lantas sekumpulan anak-anak itu lari setelah melihat Arman. Arman mengerlingkan matanya, kejadian seperti ini sudah terjadi berkali-kali.

"Mereka sampai lari lho gegara lihat kamu, Arman. Berarti memang benar kalau kamu itu jahat." Ibu baju kuning bersuara.

Emosi Arman memuncak, tatapannya menghunus ibu-ibu di hadapannya.

"Kalian semua tidak tahu seni! Tidak tahu bagaimana orang memerankan karakter dengan sempurna!" Setelah mengucapkan itu Arman pergi dari sana, berbalik arah menuju rumahnya, menghilangkan niat awal yang ingin pergi ke toko kelontong.

Sesampainya di rumah, Arman duduk di teras, lebih tepatnya di kursi kayu yang sudah lapuk. Ia sejenak mengontrol emosinya, berhadapan dengan orang yang tidak tahu menahu tentang seni pertunjukan cukup menguras energinya.

Bu Retno yang merupakan ibu Arman datang dari bilik belakang, kini duduk di sebelah anak laki-lakinya itu. "Kenapa kamu, Nak? Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja?"

Arman mengangguk singkat. "Orang-orang bodoh itu kembali menggunjingku, Ibu."

Bu Retno mengerutkan keningnya. "Orang-orang bodoh siapa?"

Arman berdecak. "Ya orang-orang desa, semua orang mengecapku buruk, jahat, sombong. Hanya karena aku memerankan karakter jahat."

Bu Retno lantas mengangguk paham, ia sedikit menggeser tubuhnya untuk mendekat ke arah Arman. Ia memegang lengan anaknya itu dengan berniat mendamaikan hati Arman.

"Arman, Ibu paham apa yang kamu rasakan. Tapi... Ibu juga merasakan hal yang sama dengan mereka."

Arman menoleh dengan tatapan tajamnya, apa maksud ucapan ibunya? Jadi selama ini ibunya juga menganggapnya sebagai orang yang jahat pula?

"Ibu ingin mengatakan jika aku jahat juga?!" Volume suara Arman naik beberapa oktaf.

Bu Retno menggeleng panik, ia tidak ingin Arman membencinya, "Bukan seperti itu, Nak, tapi Ibu merasa kamu sudah berbeda. Kemarin lusa kamu menghajar orang, minggu lalu kamu memukul orang hingga masuk rumah sakit. Ibu rasa penyebabnya karena keseringan memerankan karakter jahat, secara tidak langsung energi jahat itu juga masuk ke dalam dirimu."

Arman tidak percaya jika ucapan itu muncul dari mulut ibunya sendiri. Orang yang Arman yakini akan membelanya, justru membenarkan perkataan orang-orang yang menggunjingnya.

"Ibu tidak tahu seni, jika Arman memerankan karakter jahat itu artinya Arman harus mendalami peran itu, masuk ke dalam peran itu. Bukan berarti Arman jahat!"

"Kamu yang tidak tahu, Nak. Orang-orang terkhususnya Ibu, merasakan itu. Merasa kalau kamu bukan Arman, melainkan sosok lain di dalam tubuhmu." Perkataan Bu Retno berhasil membuat Arman terdiam sejenak.

Melihat Arman yang termenung membuat Bu Retno beralih memegang pundak Arman, mencoba menjelaskan kembali.

"Tubuh kamu sudah dikuasai oleh peranmu sendiri. Maka dari itu, kamu harus mengusir peran itu agar sifatmu yang asli kembali keluar."

Arman menghempaskan tangan Bu Retno yang bertengger di pundaknya, "Ibu sudah berlebihan, tidak seharusnya Ibu berkata seperti itu!"

Bu Retno terkejut dengan perlakuan Arman terhadapnya, memandang anaknya dengan tatapan tidak percaya. Ia semakin yakin jika Arman sudah benar-benar berubah.

"Yang Ibu katakan itu benar, Nak. Sekarang Ibu tanya, apakah kamu nyaman dengan pandangan orang-orang yang mengecapmu sebagai penjahat? Tidak kan? Coba kamu renungkan sendiri," ucap Bu Retno lalu pergi dari sana, membiarkan Arman merenungi masalahnya.

Perkataan Bu Retno sejenak berkeliaran di kepala Arman. Apa yang dikatakan ibunya juga ada benarnya, Arman tidak nyaman dengan pandangan warga terhadapnya. Ia merasa terkucilkan di desa ini, ia juga merasa jika tubuhnya seperti dikontrol oleh karakter seseorang.

**

Beberapa hari ini, Arman selalu mengurung diri di rumah, merenungi segala hal, peran, diri, dan citra yang ada pada sosoknya. Malam-malam kini tak lagi berhadapan dengan riasan wajah dan naskah, melainkan bergulat dengan isi kepala.

Hingga pada sore hari, Wira datang dengan membawa sebuah kabar.

"Man, kamu tahu ‘kan kalau kita ada proyek lakon Ramayana untuk pentas budaya bulan depan?" Tanya Wira sembari duduk di samping Arman. Meskipun Arman berlaku tak baik dengannya tempo hari lalu, namun Wira tidak lagi mempermasalahkan itu.

Arman mengangguk sekilas. "Aku diperintah untuk jadi Rahwana?" Tebaknya, lagi pula ia yakin jika akan memerankan karakter antagonis lagi.

"Kamu ditawari jadi Rama." Perkataan Wira berhasil membuat Arman mengerutkan dahi, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Rama? Karakter protagonis itu?"

"Iya," jawab Wira sambil tersenyum.

"Dalang kita menginginkan hal baru, katanya, ‘Kalau suatu aktor bisa memerankan peran jahat dengan sempurna, maka ia pasti bisa jadi baik dengan sempurna pula.’"

Arman tertawa kecil, tapi tidak dengan rasa senang. "Aku? Rama? Selucon apa ini Wira? Aku bahkan tidak bisa senyum tanpa kelihatan sinis."

"Tapi kamu mau mencobanya, ‘kan? Ayolah Arman, sekali-kali perankan karakter baik."

Arman menatap kosong ke depan, lalu mengangguk pelan. "Aku... akan mencobanya."

**

Hari-hari berlalu bagai ujian mental bagi Arman. Ia harus bersusah payah memerankan karakter protagonis. Ia belajar mengecilkan volume suara, mencoba berbicara dengan pelan, berhenti menggerakkan badan seperti hendak mengintimidasi. Melunakkan tatapannya, ia memandangi wajahnya di cermin, mencoba tersenyum seperti sosok Rama yang suci, tapi yang terlihat di sana masih bayangan kejam Duryudana.

Ia mengulang dialog berkali-kali, tetapi nada suaranya selalu mengandung tekanan. Di awal, ia gagal menyampaikan karakter lembut sosok Rama. Dalang sering menggeleng dan memberi masukan, serta Wira pun terus membantunya dengan sabar.

"Rama itu bukan lemah, Man. Tapi ia berwibawa dan tenang. Kebaikannya itu bukan pura-pura, tapi karena ia tahu bahwa kekuatan terbesar adalah mengendalikan diri supaya tenang," ucap Wira pada suatu malam.

Kalimat itu berhasil mengetuk kesadaran Arman. Ia mulai menonton pertunjukan-pertunjukan lama di ponsel, mendalami cerita Ramayana dari sisi emosional. Tak hanya itu, ia juga mencoba berjalan di desa dengan senyum, meski kikuk dan canggung. Ia menyapa anak-anak, walau mereka masih takut dan bersembunyi di balik kaki ibunya.

Namun hari demi hari, perlahan wajah Arman yang baru mulai terbentuk. Ia menjadi lebih tenang. Ia berbicara dengan lembut saat berlatih, tak lagi meledak-ledak. Para anggota tim drama mulai merasa seperti melihat sosok baru yang selama ini tersembunyi dari diri Arman.

**

Hari pertunjukan.

Dengan busana berwarna biru langit, selendang kuning yang menjuntai ke bawah, tak lupa busur yang tergantung di punggungnya, Arman berdiri di balik tirai. Kali ini, tidak ada guratan hitam di wajahnya, tidak ada senyum bengis. Ia adalah Rama, penuh wibawa dan kelembutan.

"Dengarkan aku, Shinta. Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak mempercayaimu," ucap Arman sebagai sosok Rama di panggung, suaranya tenang, penuh perasaan.

Penonton terpukau. Mereka tak menyangka aktor yang selama ini dikenal angkuh dan menyeramkan bisa memerankan sosok Rama yang penuh ketulusan. Anak-anak yang dulu lari, kini diam terpaku. Ibu-ibu yang biasa menggunjing kini diam membisu, beberapa bahkan meneteskan air mata.

Saat pertunjukan usai, tepuk tangan menggelegar.

Arman membungkuk memberi hormat, lalu tersenyum dengan tulus. Kali ini, senyumnya lembut dan asli.

Di belakang panggung, Wira menghampirinya sembari menepuk bahu. "Selamat datang kembali, Arman."

Dan untuk pertama kalinya, Arman tidak membalas dengan sinis. Ia hanya tertawa kecil, lalu menjawab, "Seharusnya... aku jadi Rama sejak awal."

Sejak saat itu, warga desa mulai berubah terhadap Arman. Warga tidak lagi menatapnya dengan sinis dan benci. Anak-anak mulai menghampirinya dengan rasa kagum. Citra Arman perlahan berubah menjadi baik. Ia berhasil mengizinkan dirinya untuk berubah. Dan di cermin yang sama tempat ia dulu melihat bayangan penjahat, kini ia melihat seseorang yang baru, seorang aktor, seorang seniman… dan seorang manusia yang kembali menjadi dirinya sendiri.

TAMAT

 

Arofatul Lailia, lahir di Kendal 13 Januari 2005. Anak bungsu yang enggan mengakui jika dirinya bungsu (rumit memang). Penggemar sastra sekaligus seni yang sedang mencari jati dirinya. Hobiku membaca serta menulis semua omong kosong yang berada di kepalaku. Aku juga suka mendengarkan musik dan penggemar nomor satu Stray Kids.

Selasa, 11 Maret 2025

TUGAS PRAGMATIK

 

Nama: Arofatul Lailia

NPM: 23410056

Kelas: 4B

Mata Kuliah: Pragmatik

 

Contoh Pragmatik

Situasi: Seorang teman melihat jam dan berkata,

A: "Sudah jam 12 siang."

B: Mulai merapikan buku dan bersiap pergi makan siang.

 

Penjelasan:

Secara semantik, kalimat "Sudah jam 12 siang" hanya menyatakan waktu. Namun, secara pragmatik, B memahami bahwa A sebenarnya mengisyaratkan bahwa sudah waktunya makan siang tanpa perlu mengatakannya secara langsung.

 

Pengertian Pragmatik

Pragmatik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari bagaimana makna sebuah ujaran dipengaruhi oleh konteks penggunaannya. Berbeda dengan semantik yang fokus pada makna kata dan kalimat secara literal, pragmatik mempertimbangkan bagaimana bahasa digunakan dalam situasi komunikasi yang sesungguhnya.

Menurut Yule (1996), pragmatik adalah studi tentang makna yang dikomunikasikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh pendengar. Ini berarti bahwa makna dalam pragmatik tidak hanya bergantung pada struktur bahasa, tetapi juga pada konteks sosial, tujuan komunikasi, serta hubungan antara penutur dan pendengar.

 

Aspek Penting dalam Pragmatik

 

1. Konteks

Konteks sangat penting dalam pragmatik, karena makna suatu ujaran bisa berubah tergantung pada situasi, tempat, waktu, dan siapa yang berbicara.

Contoh:

Seorang guru berkata kepada muridnya, "Pintunya terbuka."

Jika diucapkan dalam kelas yang panas, ini bisa berarti "Tolong tutup pintunya."

Jika diucapkan saat ada tamu datang, bisa berarti "Silakan masuk."

 

2. Tindak Tutur

Dikembangkan oleh Austin dan Searle, teori tindak tutur menjelaskan bahwa berbicara bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga melakukan tindakan.

Jenis tindak tutur:

a.     Tindak lokusi: Ujaran yang hanya menyampaikan informasi. (Contoh: "Saya lapar.")

b.     Tindak ilokusi: Ujaran yang memiliki maksud tertentu. (Contoh: "Saya lapar." → Bisa menjadi permintaan makanan.)

c.     Tindak perlokusi: Ujaran yang mempengaruhi pendengar. (Contoh: Setelah mendengar "Saya lapar," lawan bicara memberi makanan.)

 

3. Prinsip Kerja Sama

Grice mengemukakan bahwa dalam komunikasi, penutur dan pendengar bekerja sama untuk mencapai pemahaman yang baik. Prinsip ini terdiri dari empat maksim:

a.     Maksim kuantitas: Berikan informasi secukupnya.

b.     Maksim kualitas: Berikan informasi yang benar.

c.     Maksim relevansi: Berikan informasi yang relevan.

d.     Maksim cara: Gunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami.

 

4. Prinsip Kesantunan

Dalam komunikasi, orang sering kali menggunakan strategi kesantunan agar tidak menyinggung lawan bicara.

Contoh:

"Bisa tolong tutup jendela?" lebih sopan dibanding "Tutup jendela!"

 

Perbedaan Pragmatik, Semantik, dan Sosiolinguistik

 

Ringkasan Singkat

Semantik → Memahami makna kata dan kalimat secara literal.

Pragmatik → Memahami makna berdasarkan konteks dan maksud penutur.

Sosiolinguistik → Mempelajari bagaimana bahasa dipengaruhi oleh faktor sosial seperti budaya, usia, dan lingkungan.

 

Semantik

Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna kata, frasa, dan kalimat secara sistematis. Semantik berfokus pada makna yang melekat dalam suatu kata atau kalimat tanpa mempertimbangkan konteks penggunaannya dalam situasi komunikasi tertentu. Dengan kata lain, semantik lebih menekankan makna yang bersifat tetap dan dapat dijelaskan melalui aturan bahasa.

Kata "semantik" berasal dari bahasa Yunani "semaino", yang berarti "menandakan" atau "memberi makna." Dalam kajian linguistik, semantik bertujuan untuk memahami bagaimana kata-kata dan struktur bahasa memiliki arti dan bagaimana makna tersebut dapat diinterpretasikan oleh penutur bahasa.

 

Pragmatik

Secara sederhana, pragmatik tidak hanya memperhatikan arti kata secara harfiah (seperti dalam semantik), tetapi juga bagaimana kata-kata digunakan dalam konteks tertentu untuk menyampaikan maksud tertentu.

Pragmatik sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena banyak makna dalam percakapan yang tidak tersurat secara langsung, tetapi dipahami melalui konteks.

 

Sosiolinguistik

Sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat. Ilmu ini mengkaji bagaimana faktor sosial seperti budaya, kelas sosial, usia, gender, lingkungan, dan latar belakang etnis memengaruhi penggunaan bahasa.

Sederhananya, sosiolinguistik mencoba memahami bagaimana bahasa digunakan dalam berbagai konteks sosial dan mengapa orang berbicara dengan cara tertentu dalam situasi yang berbeda.

Sosiolinguistik berasal dari dua kata:

"Sosio-" yang berarti masyarak

"Linguistik" yang berarti ilmu bahasa

Karena itu, sosiolinguistik mempelajari bagaimana bahasa berfungsi dalam masyarakat dan bagaimana masyarakat memengaruhi perkembangan bahasa.

SEJARAH PRAGMATIK

 

Nama: Arofatul Lailia

NPM: 23410056

Kelas: 4B

Mata Kuliah: Pragmatik

 

Mahasiswa diharapkan memelajari dan memiliki pemahaman tentang:

 

a. Sejarah lahirnya pragmatik

Jawab:

Oleh para linguis Amerika, pragmatik sebagai salah satu kajian bahasa dianaktirikan. Terbitnya buku Language karya Leonard Bloomfield seorang linguis Amerika pada tahun 1933 membatasi gerak para linguis waktu itu untuk mengkaji bahasa pada bidang struktural dan konkret. Aliran struktural yang dipelopori oleh Bloomfield sendiri pada waktu itu (sekitar tahun 1930-an s.d.1950-an) sangat berpengaruh. Kajian bahasa yang utama dan paling konkret waktu itu adalah fonologi.

Bloomfield berangkat dari behaviorisme dalam psikologi yang dominan di Amerika sejak 1920. Menurut pandangan behaviorisme bahwa tingkah laku manusia dapat diterangkan berdasarkan situasi-situasi- bebas dari faktor-faktor internal. Ujaran bisa dijelaskan dengan kondisi-kondisi eksternal yang ada di sekitar kejadiannya. Sejalan dengan aliran atau pandangan behaviorisme dalam psikologi inilah, kaum strukturalis menganggap bahwa hal-hal yang tidak struktural atau tidak konkret (semantik dan pragmatik) bukan merupakan lahan linguistik.

Perkembangan linguistik selanjutnya menganut aliran kognitif dalam psikologi, yakni ditandai dengan kemunculan teori Tatabahasa Transformasi dari Noam Chomsky melalui buku Syntactic Structure (1957). Pada waktu itu, Chomsky mengemukakan 2 istilah dikotomis yaitu competence dan performance. Linguistik membatasi penelitiannya pada bidang kompetensi.

Dalam perkembangannya, timbullah kesadaran di kalangan linguis pada waktu itu bahwa tatabahasa harus memasukkan semantik, bukan saja fonologi, morfologi, dan sintaksis; meskipun masih hanya mencakup kompetensi.

Pembatasan kajian bahasa pada segi kompetensi dan semantik ini dirasa tidak wajar bagi para linguis yang ingin mengkaji pengaruh bahasa di masyarakat. Beberapa linguis mulai terpengaruh karya filsuf-filsuf seperti Austin (1962), Searle (1971), dan Grice (1964) terutama dalam bidang pertuturan (speech acts). Oleh sebab itu, timbullah perkembangan di bidang semantik dan pragmatik dalam linguistik.

Saat itulah (1970-an) bidang pragmatik mulai disorot dan diperhatikan oleh para linguis. Tahun 1977, pragmatik sebagai kajian bahasa resmi diperhatikan oleh para linguis dengan munculnya majalah Journal of Pragmatics yang menerbitkan karya-karya pragmatik. Suatu organisasi yang menaruh perhatikan besar terhadap bidang pragmatik segera dibentuk, yaitu IPRA (International Pragmatis Association). Tahun 1980 dan 1990 pragmatik mencatat perkembangannya yang sangat pesat.

 

b. Kedudukan pragmatik dalam tataran linguistik

Jawab:

Pragmatik berdasarkan ruang lingkup dibagi menjadi empat, yaitu sebagai berikut.

1.     1. Pragmatik merupakan studi tentang maksud penutur. Makna yang disampaikan penutur dan ditafsirkan oleh pendengar.

2.     2. Pragmatik merupakan studi tentang makna kontekstual (siapa, di mana, kapan dan bagaimana).

3.    3.  Pragmatik merupakan studi tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan/ dikomunikasikan daripada yang dituturkan (studi pencarian makna yang tersamar).

4.    4.  Pragmatik merupakan studi tentang ungkapan dari jarak hubungan (kedekatan/keakraban).

Selanjutnya, untuk melihat kedudukan pragmatik dalam linguistik, dapat dilihat dari hubungan antara sintak, semantik dan pragmatik. (1) Sintak adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk kebahasaan, bagaimana menyusun bentuk-bentuk kebahasaan itu dalam suatu tatanan dan tatanan mana yang tersusun dengan baik. (2) Semantik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dengan entitas di dunia, yaitu bagaimana hubungan kata-kata dengan sesuatu secara harfiah. Semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, selain itu semantik juga terikat pada kaidah (rule-governed). (3) Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakai bentuk-bentuk itu. Pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya dan terikat pada prinsip (principle-governed). Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain.

    Selain kedudukan di atas pragmatik dan semantik memiliki hubungan yang unik. Ketika posisi pragmatik sebagai ilmu, maka semantik (makna harfiah) berposisi di bawah pragmatik atau semantik bagian dari pragmatik yang disebut pragmatisisme. Dan apabila pragmatik menjadi bagian dari semantik disebut semantisisme.

 

c. Perlunya memelajari pragmatik

Jawab:

Berikut beberapa peran pragmatik dalam pembelajaran bahasa yang dapat dicermati.

1.     1. Meningkatkan Pemahaman Konteks

Dalam pembelajaran bahasa, memahami konteks sangat penting agar mahasiswa dapat menggunakan bahasa dengan tepat. Pragmatik mengajarkan mahasiswa untuk memahami makna tersirat, seperti sarkasme, humor, atau sopan santun yang tidak selalu terlihat dalam teks.

2.    2.  Mengasah Kemampuan Berkomunikasi Efektif

Pembelajaran pragmatik membantu mahasiswa menguasai kemampuan komunikasi yang lebih dari sekadar tata bahasa. Mereka diajarkan untuk memperhatikan elemen seperti intonasi, ekspresi wajah, atau penggunaan jeda dalam berbicara untuk menyampaikan maksud dengan jelas.

3.    3.  Mengatasi Hambatan Budaya

Pragmatik juga membantu mahasiswa memahami perbedaan budaya dalam penggunaan bahasa. Beberapa ekspresi atau ungkapan mungkin memiliki arti yang berbeda di berbagai budaya. Dengan mempelajari pragmatik, mahasiswa dapat berkomunikasi lebih sensitif terhadap norma budaya tertentu.

Sabtu, 07 Desember 2024

Menulis Kajian terhadap Puisi-puisi yang Disajikan pada Semitra VIII 2024

 Oleh Arofatul Lailia


Puisi Biru Bukit, Bukit Kelu karya Taufiq Ismail


Biru Bukit, Bukit Kelu 

Oleh: Taufiq Ismail


Adalah hujan dalam kabut yang ungu

Turun sepanjang gunung dan bukit biru 

Ketika kota cahaya dan dimana bertemu 

Awan putih yang menghinggapi cemaraku.


Adalah kemarau dalam sengangar berdebu 

Turun sepanjang gunung dan bukit kelu 

Ketika kota tak bicara dan terpaku 

Gunung api dan hama di ladang-ladangku.


Lereng-lereng senja

Pernah menyinar merah kesumba

Padang ilalang dan bukit membatu 

Tanah airku.


1. Tema Puisi

    Tema utama dalam puisi "Biru Bukit, Bukit Kelu" karya Taufiq Ismail adalah kerinduan terhadap alam dan kedamaian, serta refleksi tentang kehidupan dan perjuangan manusia dalam menghadapi realitas dunia yang keras.

2. Makna Pada Setiap Bait Puisi

    "Lereng-lereng senja" menggambarkan waktu senja yang sering dikaitkan dengan perasaan melankolis, sebuah waktu transisi yang membawa kedamaian atau kerinduan.

3. Gaya Bahasa

    Personifikasi: "Awan putih yang menghinggapi cemaraku" memberi kesan bahwa alam ikut berperan dalam menghadapi dan mengatasi kegelisahan atau rasa bersalah.

Metafora: "Kelu" berarti hampa atau kosong, yang bisa menggambarkan perasaan kehilangan atau kehampaan.

4. Suasana

    Puisi ini menggambarkan suasana yang tenang dan penuh keindahan alam. Taufiq Ismail berhasil menciptakan suasna yang penuh dengan perasaan kompleks, yang mengundang pembaca untuk merenung tentang kehidupan, kehilangan, dan kedamaian.

5. Pesan Moral

    Puisi ini mengajarkan kita untuk menerima takdir dalam kehidupan, menghadapi dan menerima kesedihan atau kekosongan, serta menemukan kedamaian dalam pencarian makna. Selain itu, mengajarkan kita untuk tetap tegar dalam menghadapi kehidupan.


    Puisi karya Taufiq Ismail ini sangat menyentuh hati karena mengangkat hubungan manusia dengan alam bebas. Taufiq menggunakan kata-kata atau diksi yang sederhana, diceritakan dengan paduan bahasa kiasan dan metafora yang tentunya semakin membuat puisi ini berasa hidup dan alami. Taufiq juga mengemas pesan moral dalam puisi ini, walau puisinya tidak terlalu banyak, tetapi Taufiq bisa menyampaikannya dengan tepat. Takdir dan kehidupan harus kita terima serta hadapi, menerima kesedihan dan menemukan kedamaian adalah salah satu pesan moral dari puisi ini.

    Suasana dalam puisi ini ialah tenang, rangkaian diksi ini membuat pembaca merenungi kedamaian dan kehidupan. Taufiq sangat pandai dalam merangkai metafora, hingga pembaca bisa merasakan suasana yang Taufiq gambarkan. Pembaca seolah membayangkan kehidupan pedesaan, alam bebas, yang isinya hamparan sawah ataupun pepohonan yang disertai semilir angin menyejukkan. Secara tidak langsung, Taufiq Ismail mendeskripsikan keadaan tanah air yang indah lewat barisan diksi.








Kamis, 05 Desember 2024

Paragraf Eksposisi dan Paragraf Argumentasi pada Seminar "Intelejensia Artifisial dan Etika Pemanfaatannya di Lingkungan Akademik"

 

Oleh Arofatul Lailia


Buat Paragraf Eksposisi dan Paragraf Argumentasi yang berkaitan dengan seminar “Intelejensia Artifisial dan Etika Pemanfaatannya di Lingkungan Akademik”

 

Paragraf Eksposisi

 

    Seminar bertema "Intelejensia Artifisial dan Etika Pemanfaatannya di Lingkungan Akademik" menyoroti pentingnya memahami dan menerapkan etika dalam pemanfaatan AI generatif, khususnya dalam pengajaran bahasa dan penulisan ilmiah. Dalam diskusi ini, peserta diajak untuk mengenal berbagai alat AI seperti korpus, platform UCREL Web, dan Typeset.io yang membantu dalam analisis teks serta pengelolaan referensi ilmiah. Seminar juga membahas konsep Humanize AI, yaitu pendekatan untuk memastikan AI tetap mempertahankan sifat manusiawi. Selain mengupas manfaatnya, materi mencakup tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan AI dalam memahami konteks budaya dan potensi plagiarisme yang muncul akibat ketergantungan pada AI.

 

Paragraf Argumentasi

    Di sisi lain, peserta diperkenalkan dengan tren masa depan AI, sepertinya integrasi teknologi lebih canggih dalam pendidikan dan penelitian, yang harapannya mampu menjadi alat bantu efektif namun tetap selaras dengan nilai-nilai etika akademik. Dengan memaparkan tren masa depan AI, seminar ini membantu akademisi mengoptimalkan teknologi secara etis untuk mendukung adanya inovasi tanpa melupakan tanggung jawab akademik.

    Dalam konteks pendidikan, khususnya pengajaran bahasa dan penulisan ilmiah, pemanfaatan AI ini  harus dilakukan dengan etika. AI bisa saja menjadi alat bantu efektif untuk memperkaya pembelajaran, seperti memberikan umpan balik terhadap kesalahan tata bahasa atau membantu merumuskan ide dalam penulisan. Meski demikian, penggunaan AI dalam penulisan ilmiah memerlukan pengawasan ketat agar tidak menimbulkan plagiarisme atau ketidakakuratan data.

Minggu, 17 November 2024

Menulis Kajian terhadap Puisi-puisi yang Disajikan pada Acara Puncak Mahasastra 736

 

Oleh Arofatul Lailia


1. Puisi Beri Daku Sumba karya Taufiq Ismail

 

Beri Daku Sumba

Oleh: Taufiq Ismail

 

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu

aneh, aku jadi ingat pada Umbu

 

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka

Di mana matahari membusur api di atas sana

Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka

Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

 

Tanah rumput, topi rumput, dan jerami bekas rumput

Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala

Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut

Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

 

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari

Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda

Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari

Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

 

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda

Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh

Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua

Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

 

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka

Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda

Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

 

1.     Tema Puisi

Tema utama puisi "Beri Daku Sumba" karya Taufiq Ismail adalah kerinduan terhadap keindahan alam, dan kebebasan di pedesaan Sumba yang alami. Melalui deskripsi padang-padang terbuka, dan kuda-kuda yang bebas, puisi ini menyoroti hubungan manusia dengan alam serta nostalgia terhadap kehidupan penuh makna.

 

2.     Makna Pada Bait Puisi

"Di mana matahari membusur api di atas sana" matahari yang "membusur api" melambangkan panas yang mendominasi, memberikan kesan kehidupan yang keras namun penuh semangat.

"Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh" melambangkan kerasnya kehidupan di Sumba yang panas dan kering, namun tetap penuh kehidupan.

 

3.     Gaya Bahasa

Personifikasi: "Angin zat asam panas dikipas dari sana" memberikan kesan melebih-lebihkan gambaran angin yang panas.

Repetisi: Frasa "Rinduku pada Sumba" diulang beberapa kali untuk menegaskan perasaan mendalam sang penyair terhadap tanah ini.


4.     Suasana

Suasana yang diciptakan dalam puisi ini adalah suasana kerinduan mendalam terhadap pedesaan Sumba. Penulis mengungkapkan kerinduannya terhadap keindahan alam, kehidupan yang sederhana, dan kebebasan yang ditawarkan oleh Sumba.

 

5.     Pesan Moral

Taufiq Ismail menyampaikan pesan agar masyarakat menghormati alam, budaya dan hidup sederhana dengan penuh kedamaian, serta tidak melupakan asal tempat tinggal dan keharmonisannya.

 

2. Puisi Sebuah Jaket Berlumur Darah karya Taufiq Ismail

 

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Oleh: Taufiq Ismail

 

Sebuah jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah pergi duka yang agung

Dalam kepedihan bertahun-tahun.

 

Sebuah sungai membatasi kita

Di bawah terik matahari Jakarta

Antara kebebasan dan penindasan

Berlapis senjata dan sangkur baja

 

Akan mundurkah kita sekarang

Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’

Berikrar setia kepada tirani

Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

 

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu

Kami semua telah menatapmu

Dan di atas bangunan-bangunan

Menunduk bendera setengah tiang.

 

Pesan itu telah sampai kemana-mana

Melalui kendaraan yang melintas

Abang-abang becak, kuli-kuli pelabuhan Teriakan-teriakan di atas bis kota

Pawai-pawai perkasa

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

Lanjutkan Perjuangan

 

1.     Tema Puisi

Tema utama puisi "Sebuah Jaket Berlumur Darah" karya Taufiq Ismail adalah protes terhadap kekerasan, ketidakadilan, dan penindasan, serta penghormatan terhadap perjuangan mahasiswa dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Puisi ini menggambarkan perlawanan terhadap rezim dan pengorbanan kaum muda yang berani berdiri di garis depan untuk memperjuangkan perubahan.

 

2.     Makna Pada Bait Puisi

"Telah pergi duka yang agung/Dalam kepedihan bertahun-tahun" menggambarkan perjalanan panjang penderitaan yang dialami oleh rakyat atau kelompok tertentu akibat ketidakadilan dan kekerasan.

"Antara kebebasan dan penindasan" menggambarkan konflik tajam antara dua sisi yang berlawanan, kebebasan sebagai cita-cita dan penindasan sebagai kenyataan yang dihadapi.

 

3.     Gaya Bahasa

Personifikasi: "Dukamu mengalir di jalanan." Ini menggambarkan rasa duka yang menyebar luas dan dirasakan oleh banyak orang.

Metafora: "Antara kebebasan dan penindasan / Berlapis senjata dan sangkur baja" konflik digambarkan melalui metafora perlawanan antara cita-cita kebebasan dan represi kekuasaan yang kejam.

 

4.     Suasana

Puisi ini dipenuhi suasana duka yang mendalam. Frasa seperti "dukamu mengalir di jalanan" menggambarkan kesedihan yang tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga oleh masyarakat luas.

 

5.     Pesan Moral

Puisi ini mengajarkan pentingnya menghormati mereka yang berani memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan kebebasan, meskipun harus membayar harga mahal berupa nyawa.

 

3. Perayaan Duka Lara karya Nanda Umu Naimah

 

Perayaan Duka Lara

Oleh: Nanda Umu Naimah

 

Sekarang rela, telah hilang separuh

Terpaksa mengabur, diterpa hujan yang jatuh (sebab kemarin sempat aku berkelun)

Pada hidup yang begitu riuh

 

Perihal beberapa hari silam

Aku melintasi jalanan kelam lebam

Terseok-seok melangkah tanpa genggam

 

Aku pecahkan bening di kedua mata

Derai mengalir deras

Seraya menutupi diri dengan erangan keras

 

Mengapa lagi-lagi aku gagal?

Tercekat, terpelanting, teramati

Awan kelabu terpapar begitu pekat

 

Sesak merebak...

Aku hampir sekarat

Namun di jalan takdirku ini

Perlahan kupilih untuk pulih

 

Menurunkan semua duka dengan perayaan paling meriah

Melimpahkan tangis yang pecah, hingga lapang lalu pulang

Memompa segenap penerimaan, yang terbalut oleh kepingan rela dari yang masih tersisa

 

Walau duka dan laranya tak kunjung sembuh

Setidaknya, aku akan mengadah dan bersimpuh

Mudah-mudahan raga dan jiwa, senantiasa diberi teduh

 

Pula harap-harap agar diri, agar diri tak meredup demi menyambang

Rentetan barang hidup

Hingga esok tiba...

Sangkala usiaku telah tutup

 

1.     Tema Puisi

Tema pada puisi "Perayaan Duka Lara" menggambarkan pergulatan batin seorang individu yang mengalami penderitaan mendalam dan proses pemulihan. Tema penyembuhan dari luka batin dan penerimaan terhadap takdir menjadi inti dari puisi ini.

 

2.     Makna Pada Bait Puisi

"Aku melintasi jalanan kelam lebam" menggambarkan perjalanan hidup yang penuh kesulitan dan penderitaan.

"Walau duka dan laranya tak kunjung sembuh" menggambarkan bahwa penyembuhan emosional bukanlah hal yang mudah atau cepat, tetapi ada upaya untuk tetap tegar.

 

3.     Gaya Bahasa

Personifikasi: "Sesak merebak" memberi sifat hidup pada perasaan sesak yang hampir mematikan.

Repetisi: Pengulangan dalam frasa seperti "agar diri" mempertegas harapan dan tekad yang kuat untuk bertahan.

 

4.     Suasana

Suasana puisi ini penuh dengan kesedihan, penderitaan, dan keputusasaan, tetapi juga ada proses penyembuhan, penerimaan, dan harapan. Ada perasaan terjebak dalam kesulitan hidup, namun juga keinginan untuk bangkit dan melanjutkan hidup dengan penuh penerimaan.

 

5.     Pesan Moral

Pesan moral dari puisi ini adalah pentingnya penerimaan diri, keberanian untuk menghadapi penderitaan, dan proses penyembuhan dalam menghadapi hidup yang penuh tantangan.

 

4. Puisi Biru Bukit, Bukit Kelu karya Taufiq Ismail

 

Biru Bukit, Bukit Kelu

Oleh: Taufiq Ismail

 

Adalah hujan dalam kabut yang ungu

Turun sepanjang gunung dan bukit biru

Ketika kota cahaya dan dimana bertemu

Awan putih yang menghinggapi cemaraku.

 

Adalah kemarau dalam sengangar berdebu

Turun sepanjang gunung dan bukit kelu

Ketika kota tak bicara dan terpaku

Gunung api dan hama di ladang-ladangku.

 

Lereng-lereng senja

Pernah menyinar merah kesumba

Padang ilalang dan bukit membatu

Tanah airku.

 

1.     Tema Puisi

Tema utama dalam puisi "Biru Bukit, Bukit Kelu" karya Taufiq Ismail adalah kerinduan terhadap alam dan kedamaian, serta refleksi tentang kehidupan dan perjuangan manusia dalam menghadapi realitas dunia yang keras.

 

2.     Makna Pada Setiap Bait Puisi

"Lereng-lereng senja" menggambarkan waktu senja yang sering dikaitkan dengan perasaan melankolis, sebuah waktu transisi yang membawa kedamaian atau kerinduan.

 

3.     Gaya Bahasa

Personifikasi: "Awan putih yang menghinggapi cemaraku" memberi kesan bahwa alam ikut berperan dalam menghadapi dan mengatasi kegelisahan atau rasa bersalah.

Metafora: "Kelu" berarti hampa atau kosong, yang bisa menggambarkan perasaan kehilangan atau kehampaan.

 

4.     Suasana

Puisi ini menggambarkan suasana yang tenang dan penuh keindahan alam. Taufiq Ismail berhasil menciptakan suasna yang penuh dengan perasaan kompleks, yang mengundang pembaca untuk merenung tentang kehidupan, kehilangan, dan kedamaian.

 

5.     Pesan Moral

Puisi ini mengajarkan kita untuk menerima takdir dalam kehidupan, menghadapi dan menerima kesedihan atau kekosongan, serta menemukan kedamaian dalam pencarian makna. Selain itu, mengajarkan kita untuk tetap tegar dalam menghadapi kehidupan.




 

Tugas Kapita Selekta Bahasa Indonesia

Nama: Arofatul Lailia NPM: 23410056 Kelas: 6B Mata Kuliah: Kapita Selekta Bahasa Indonesia Pada mata kuliah Kapita Selekta Bahasa Indonesia,...